11 Nov 2014 | By: vj lie

Jambearum Yang Mulai Basah

Doc : PipiMerah
Setelah semalam diguyur hujan yang lumayan besar, siang hingga sore barusan hujan kembali datang lebih lebat dari semalam. Angin mengayunkan dahan-dahan pohon, hingga dedaunan rontok ke tanah.

Krumunan bambu juga tak mauh kalah bergoyang, beberapa ujungnya menyentuh tanah karena tak mampu menopang kawanannya yang sedang asik bergoyang diatas sana.

Hujan sudah mulai reda, dan meyisakan tanah basah. Ya. Bisa dibilang becek.

Emak basah kuyup sepulang dari berkeliling menjual tahu, beberapa tetangga mulai menyapu halamanya. Emak yang baru datang urun andil menyapu halaman samping, Bapak memotong bambu-bambu yang menyentuh tanah yang menyebabkan orang tak bisa lewat.

Beberapa orang lagi naik genteng untuk memperbaiki genteng yang tergeser oleh angin, ada juga yang membersihakan saluran air, namun ada yang memilih diam sembari makan gorengan dan kopi di teras rumahnya. Sedari ujung barat hingga timur aku lihat warga semua keluar dari rumah, menegur sapa dan mulai memanjatkan syukur atas air yang mulai turun.

Jambearum sudah panen jagung, dan ini kabar baik untuk petani yang akan memulai musim tanam padi. Kabar baik pula bagi penjual Jas hujan, Lem untuk rembesan air, hingga kabar baik untuk anak-anak yang sedari tadi sudah ramai berlarian bermain diderasnya hujan.

Teriakan gurau mareka seperti mengajak aku untuk bernostalgia di 17 tahun yang lalu.

Selamat Datang Hujan, Kami menyambutmu dengan senang. Seperti tanah yang tidak pernah lalai untuk menjadi rumah bagimu ketika kau turun ke bumi.

1 komentar:

myra anastasia mengatakan...

bau tanah ketika hujan itu enak :)

Posting Komentar