28 Okt 2015 | By: vj lie
19 Okt 2015 | By: vj lie

Mengenal Benjeng Lewat Jejak Gresik

Foto : Harry Alfannani
Potret, Rekam, Tulis. Begitu tage line dari acara Jejak Gresik 2 yang diadakan oleh beberapa komunitas yang ada di Gresik. Tercacat ada sebelas komunitas, diantaranya Gresik Trip, Gresik Movie, Exposure Gresik, Info Gresik, Karang Taruna Jogodalu, Explore Gresik, Dorong Poto, Benjeng Pribumi, Armapala, Gresik Sumpek, dan OI Bromocora.

Kali ini saya ikut bergabung karena tertarik dengan tage line yang di usung, dan beberpa tulisan temen-temen Gresik yang saua baca. Saya saat ini memang tidak ikut dalam komunitas apapun tapi keinginan untuk bergabung dan mengenal Gresik sangatlah besar. Bagi saya Gresik menjadi rumah kedua setelah Jember, karena disini saya menemukan pasangan dan tempat tinggal untuk saat ini.

Pertama kali saya menghubungi Mas Irfan selaku koordinator acara, saya menghubungi Mas Irfan lewat pesan pendek dan sekaligus memperkenalkan diri. Mas Irfan mengarahkan saya untuk menuju titik kumpul di terminal Bunder jam 09:00 wib. Saat saya kesana masih sedikit yang kumpul, ada 4 orang terlihat diparkiran Mikrolet/MPU. Saya datang dengan Istri dan kawan dari ITS Surabaya.

Sekitar 100 orang yang ikut dalam acara ini, rata-rata didominasi oleh kalangan muda. Jejak Gresik kali ini membawa saya berkunjung ke Kecamatan Benjang,sesampai di balai kecamatan, kami berkumpul bersama dan dibuka acara dibuka oleh Mas Hadi dari Benjeng Pribumi. Pembukaan berlangsung tidak begitu lama, yang kemudian peserta diajak untuk menyusuri Benjeng hingga di Desa Balong Tunjung.

Foto : Vj Lie
Peserta dibawa ke pendopo desa untuk bertemu dengan kepala desa dan berbicara soal desa yang beliau pimpin. Desa Balong Tunjung diperkenalakan sebagai desa yang menjaga toleransi umat beragama yang baik. Desa ini memiliki dua warga dengan keyakinan berbeda yang bisa hidup rukun, ayem, lan tentrem, walau tempat pribadatan mereka saling berdekatan.

Pak Suharto adalah kepala desa disini, beliau mengatakan pada tahun 1962 pendopo desa lah yang menjadi tempat untuk pemeluk Agama Kristen di desanya sebagai tempat kebaktian, hingga terbangunnya Gereja secara swadaya disisi timur desa.

Benjeng terkenal menjadi daerah rawan banjir di Kabupaten Gresik. Saya sedikit ngobrol dengan Has Hadi disela acara, dalam catatan Mas Hadi, Benjeng mulai mengalami banjir pada tahun 60an. Banjir disebabkan dari meluapnya Kali Lamong yang mengalami pendangkalan, beberapa titik kali lamong yang pinggirannya ditanami pepohonan yang tidak dijaga berakibat mempersempit sungai, hingga bangunan warga yang mengganggu jalannya air, sampai saat ini normalisasi Kali Lamong dan pembuatan waduk terus disuarakan.

Dimusim hujan memang membuat terendamnya sebagian wilayah, dimusim kemarau Benjang mengalami sulit air, warga memanfaatkan air telaga/tambak untuk memenuhi kebutuhan air, air sumur disini terasa asin dan keruh, sedangkan prusahaan penyedia air milik daerah tidak mencakup seluruh Kecamatan Benjeng.

Lahan Persawahan disini termasuk lahan tadah hujan, sehingga hanya saat hujan saja para petani berbondong-bondong menanam lahanya dengan tanaman padi, dan membiarkan tidak tertanami saat musim kemarau.

Peserta sengaja diajak melihat Benjeng dimusim kemarau, karena Mas Hadi beranggapan ini adalah potret Benjeng yang sebenarnya panas, dan gersang. Usulan normalisasi, dan pembuatan waduk memang sangat diperlukan untuk mencukupi keperluan air baku di daerah Gresik, dan mengontrol debit air saat musim hujan tiba.

Foto : Vj Lie
Beranjak dari Desa Balong Tunjung, peserta diajak menuju pengrajin sarung tenun yang berada di Desa Jogodalu. Jogodalu adalah desa yang masih ikut dalam wilayah Kecamatan Benjeng.

Saya kali kedua di Desa Jogodalu. Disini kami beristirahat sejenak disalah satu Madrasah, peserta disambut para karang taruna desa. Anggota karang taruna mempersiapakan makan, minum, dan buah sebagai menu penutup. Setelah istirahat selesai, Mas Irfan membawa kami untuk berkunjung ketempat pengrajin sarung tenun yang tak jauh dari lokasi istirahat. Kami dikenalkan dengan Pak Nursalim. Pak Nur adalah pemilik usaha sarung tenun Putra Nur.

Dalam perbincangan kami, beliau memulai usaha ini sejak tahun 90an. Berbekal pengalaman bekerja di sebuah prusahaan sarung terkemuka, Pak Nur memulai bisnis sarung tenun ini dengan modal awal 2 alat tenun.Saat ini Pak Nur sudah memiliki 30 karyawan yang bekerja dirumah masing-masing dengan dibekali 1 alat tenun setiap 1 karyawan. Hanya ada 2 alat tenun yang berada rumah Pak Nur. Sarung yang dikerjakan memiliki 2 jenis, jenis pertama sarung dengan bahan sutra, dan jenis kedua dengan bahan campuran sutra dan misris dengan komposisi 50 : 50.

Foto : Vj Lie
Karyawan yang sudah ahli bisa membuat sarung dalam waktu satu hari, biasanya setiap selesai membuat para karyawan yang didominasi oleh ibu-ibu rumah tangga ini langsung menyetor kepada Pak Nur. Corak yang dibuat pengerajin ada 3 macam : Corak Standar, Timbul, dan Es Lilin. Perbedaan antara sarung tenun tradisional dengan sarung tenun yang dikerjakan oleh mesin modern bisa dilihat dari tekstur, warna, dan jahitan.

Namun yang sangat mencolok adalah jahitan, jika kita terbiasa melihat sarung dengan jahitan Vertikal itu bisa dipastikan sarung diproduksi dengan mesin modern, jika sarung dengan jahitan Horisontal maka itu dari pengarjin sarung tradisional, dan mungkin saja itu buatan tangan para karyawan Pak Nur.

Usaha ini berkembang pesat di tahun 2000 sampai 2010, belakangan ini usaha yang Pak Nur geluti tergolong menurun. Perkembangan teknologi mulai menggeser pengrajin sarung tenun tradisional, saat ini ada tiga merek yang sudah teken kontrak dengan Pak Nur. Alhamdulillah dengan tiga merek ini Pak Nur masih bisa memberi penghasilan dan mendapatkan keuntungan.

Setelah kunjungan dari kediaman pak Nur, saya memutuskan untuk menyudahi acara ini. Sebab saat itu saya masih ada urusan untuk ketemu dengan pengrajin kaos yang ada di Kecamatan Menganti. Saya berpamitan dengan Mas Irfan dan kawan-kawan penggiat acara ini.

Terimakasih, dan Semangat untuk teman-teman Jejak Gresik, karena acara ini sangat bermanfaat semoga ada kelanjutan untuk yang ke 3, 4, 5 dan seterusnya.


Salam



13 Okt 2015 | By: vj lie

Kelas Inspirasi Gresik 3

Foto Pribadi
Kelas Inspirasi Gresik membawa saya beserta istri dan kawan yang lain ke SDN Jogodalu untuk menginspirasi adek-adek sekolah dasar. Tentu, saya sebagai dokumentator yang bertugas memotret kegiatan sedari awal hingga akhir.

Berawal dari ajakan istri, saya ikut dalam gerakan ini di Gresik, Ovi menginginkan kegiatan sosial yang dilakukan bareng-bareng. Tentu saya langsung setuju meski ada perdebatan kecil malam itu sebelum kemudian kami sepakat untuk ikut di Kelas Inspirasi Gresik.

Tim kami berjumlah sepuluh orang, terdiri dari 5 Fasilitator, 2 Dokumentator, dan 3 Inspirator.

Mas Arif yang saat itu juga menjadi Dokumentator berbaik hati menyewa mobil untuk kami bisa berangkat bersama di lokasi, mobil berangkat pukul 06:00 wib dari Masjid Agung Gresik. Saya, Ovi, Mbak Neser, Mas Adit, Mbak Mita, Mbak Zoya menumpang mobil yang dikemudikan oleh mas Arif. Sedangkan Mas Herman dan Mbak Intan menyusul kami dengan membawa mobil sendiri karena masih ada persiapan yang belum beres. Sedangkang mas Bagus membawa motor dan berangkat sendiri karena jarak dari sekolah lebih dekat. Kami semua berangkat dengan semangat Inspirasi, berharap kami menjadi tim inspirasi yang menghibur serta menjadi motivasi bagi adek-adek SDN Jogodalu.

Perjalanan kami tempuh kurang dari 1 jam. Jogodalu terletak di sisi barat masuk administrasi Kecamatan Benjeng, Kabupaten Gresik.

Kami datang dengan waktu yang pas, murid-murid belum sepenuhnya datang dan para guru juga belum semua datang, sehingga kami masih bisa beres-beres apa yang kami perlukan sebelum upacara bendera hari senin dilaksanakan. Saya berjalan dari kelas ke kelas untuk melihat adek-adek yang sedang melaksanakan piket harian. Ada yang sedang duduk-duduk bergerombol untuk berbincang-bincang, dan ada pula yang menatap saya dengan penuh tanda tanya saat saya memotret aktifitas mereka dipagi hari.

Mengingatkan saya pada beberapa tahun belakang saat saya masih duduk dikelas sekolah dasar, ini seperti nostalgia masa SD.

Bangunan sekolah dasar disini cukup baik, namun masih kekurangan kelas. Perpustakaan di pojok sekolah menjadi alternatif ruang kelas untuk kelas 3. Bangku sekolah juga masih kurang memadai disini, kelas 3 yang memanfaatkan ruang perpustakaan harus rela duduk di lantai kramik yang dingin saat pelajaran berlangsung, sebab hanya ada bangku belajar kecil yang disediakan oleh sekolah. Sedangkan kelas-kelas yang lain bangku yang sudah terlihat reot dan usang masih digunakan untuk belajar. Sepertinya Pihak sekolah masih berbenah untuk mengatasi ini, memperkokoh bangunan terlebih dahulu sebelum fasilitas yang lain dipenuhi.

Foto Pribadi
Upacara dimulai tepat pukul 07:00wib semua berbaris sesuai kelompoknya masing-masing. Hingga pada saatnya Kami dari Kelas Inspirasi Gresik diperkenalkan oleh Ibu.Maskurotul Hidayah yang menjabat sebagai Kepala Sekolah disaat memberikan pidato. Semua bergembira hari ini, karena dikosongkan jadwal pelajaran formalnya dan diisi oleh kami. Kami memperkenalkan diri sebagai Kakak bukan sebagai Ibu atau Bapak agar kami bisa cepat diterima dan lebih bersahabat.

Selesai upacara para fasilitator mengumpulkan adek-adek ke lapangan sekolah untuk melakukan perkenalan dengan cara yang unik dan membuat semua bibir mengembang dengan sumringah. Mbak Intan memperkenalkan kami secara urut satu persatu hingga kemudian membuat jargon.

Semua berteriak HU...HA.... ketika kami mengatakan SDN Jogodalu.

Suara itu lantang, memecah kesunyian disekitar sekolah yang begitu luas terbentang sawah dan tambak ikan milik warga. Terang saja lantang karena ini diteriakkan oleh semua murid dari kelas 1 hingga kelas 6.

Diakhir perkenalan mbak Intan membagi adek-adek menjadi tiga kelompok.
kelompok pertama kelas 1 dan 2 diisi oleh mas Adit yang berprofesi sebagai Arsitek
Kelompok kedua kelas 3 dan 4 diisi oleh mbak Neser yang berprofesi sebagai Peneliti
kelompok ketiga kelas 5 dan 6 diisi oleh mas Herman yang seorang Pengusaha
Semua mendapatkan porsi yang sama dan bergiliran dengan waktu selama 40 menit tatap muka.

Foto Pribadi
Sepengamatan saya semua berjalan dengan lancar, semua tersenyum dan bahagia mengikuti topik yang dibawakan oleh Inspirator, Adek-adek diajak mengenal campuran warna oleh mas Adit hingga membentuk warna baru dari campuran warna tersebut, bagitu pula dengan mbk Neser yang mengajak adek-adek menjadi seorang peneliti cilik, mulai dari mengenal sekitar hingga menghiting berapa banyak pohon dan sepeda yang sedang di parkir di halaman pojok barat sekolah.

Sedikit berdeda dengan kedua Inspirator, mas Herman yang berlatar belakang sebagai pengusaha muda memberikan motifasi sederhana yang bisa dicerna oleh usia dini, dan memberikan hiburan berupa joget bareng untuk mencairkan suasana.

kelompok ketiga adalah kelompok yang membuat kedua inspirator gemes serta jengkel, bagaimana tidak. Di kelompok ini para adek laki-laki begitu susah diajak mengikuti arahan Inspirator, semua berteriak "Pulang....Pulang...Pulang" mbak Neser yang sedang mendapat giliran memperlihatkan wajah kusutnya, entah apa yang sedang ia pikirkan, yang jelas dia tampak tak sanggup berbuat banyak untuk mengatasi suasana seperti itu.

Aku datang, dan adek-adek memberikan kesepakatan, jika di foto meraka baru mau untuk kembali mengikuti acara. Ya sudahlah, aku mengikuti kesepakatan itu dengan memotretnya hingga kemudian acara kembali berjalan, walau kemudian mereka kembali melakukan mogok.

Hehehehe..... Sepertinya ini adalah tantangan seorang Inspirator.

Saat terik matahari sudah bergeser tepat diatas kepala kami memberikan stiker dengan gambar berbagai profesi yang diberikan tempat untuk menuliskan nama serta cita-cita yang kemudian diterbangkan dengan balon helium yang sudah mas Bagus sediakan. Ya. Kami memberikan itu untuk adek-adek menuliskan cita-citanya, dengan harapan cita-cita itu terkabul menjadi kenyataan.

Seorang anak yang cukup bandel dikelompok tiga memberi inspirasi kepada kami, setidaknya ini menjadi sebuah renungan bagi kita semua. Mas Herman yang meminta menyebutkan apa cita-citanya dia dengan lantang ingin menjadi seorang petani. Ya. Petani. Dengan santai dia memberikan alasannya kenapa menjadi seorang petani, "Pengen jadi petani karena ingin punya beras yang banyak" Simpel memang, tapi ini cukup membuat kita dan saya khususnya bercermin dengan apa yang terjadi saat ini.

Ketika banyak petani menyekolahkan anak-anaknya hingga menempuh perguruan tinggi sampai rela menjual sebagian lahannya, dengan harapan agar anaknya menjadi seoarang pegawai negeri atau profesi lain selain petani. Kita tidak sadar jika generasi sebagai petani harus tumbuh berkembang dengan sukses dan mandiri, agar kita sebagai bangsa ageraris bisa swasembada pangan dan tidak lagi impor bahan pangan.

Menjadi seorang petani bukanlah hal yang buruk bagi negeri ini, justru kita butuh petani. Menyusutnya lahan pertanian yang beralih fungsi menjadi perumahan karena faktor banyaknya generasi kita tidak ingin menjalani profesi sebagai petani. Pemikiran yang polos tersebut menjadikan saya banyak berfikir dan ingin cepat-cepat menuliskan ini sebagai bahan untuk pembaca yang mungkin juga ikut menjadi Inspirator, kalau menjadi seorang petani adalah profesi yang harus didoroang kuat dan itu adalah profesi yang mulia.

Kami semua berangkat dengan semangat menginspirasi dan pulang dengan terinsirasi. Kegiatan ini begitu banyak memberikan kami manfaat, semoga kami juga bermanfaat bagi adek-adek SDN Jogodalu.

Diakhir acara kami berfoto bersama dan melepas balon dengan sorak kegembiraan, semoga semua sukses dan manjadi manusia-manusia yang bermanfaan bagi sekitar dan bangsa maupun negara.

#SalamInspirasi








*Semua foto yang dimuat dihalaman ini adalah dokumentasi kegiatan milik pribadi