11 Nov 2014 | By: vj lie

Jambearum Yang Mulai Basah

Doc : PipiMerah
Setelah semalam diguyur hujan yang lumayan besar, siang hingga sore barusan hujan kembali datang lebih lebat dari semalam. Angin mengayunkan dahan-dahan pohon, hingga dedaunan rontok ke tanah.

Krumunan bambu juga tak mauh kalah bergoyang, beberapa ujungnya menyentuh tanah karena tak mampu menopang kawanannya yang sedang asik bergoyang diatas sana.

Hujan sudah mulai reda, dan meyisakan tanah basah. Ya. Bisa dibilang becek.

Emak basah kuyup sepulang dari berkeliling menjual tahu, beberapa tetangga mulai menyapu halamanya. Emak yang baru datang urun andil menyapu halaman samping, Bapak memotong bambu-bambu yang menyentuh tanah yang menyebabkan orang tak bisa lewat.

Beberapa orang lagi naik genteng untuk memperbaiki genteng yang tergeser oleh angin, ada juga yang membersihakan saluran air, namun ada yang memilih diam sembari makan gorengan dan kopi di teras rumahnya. Sedari ujung barat hingga timur aku lihat warga semua keluar dari rumah, menegur sapa dan mulai memanjatkan syukur atas air yang mulai turun.

Jambearum sudah panen jagung, dan ini kabar baik untuk petani yang akan memulai musim tanam padi. Kabar baik pula bagi penjual Jas hujan, Lem untuk rembesan air, hingga kabar baik untuk anak-anak yang sedari tadi sudah ramai berlarian bermain diderasnya hujan.

Teriakan gurau mareka seperti mengajak aku untuk bernostalgia di 17 tahun yang lalu.

Selamat Datang Hujan, Kami menyambutmu dengan senang. Seperti tanah yang tidak pernah lalai untuk menjadi rumah bagimu ketika kau turun ke bumi.
6 Nov 2014 | By: vj lie

Masa-Masa STM

Doc Pribadi

Hari ini sedang ingin bernostalgia. Akhir 2007 aku dan teman-teman sudah dihadapkan dengan les-les untuk persiapan Ujian Nasional (UN) sepulang sekolah.

Saat itu hari Jum'at, aku dan kawan yang masih ingin santai seturun sholat jum'at menyempatkan diri untuk main domino bersama dikost salah satu teman.Mendengar les urung dilaksanakan, maka main domino dilanjut sampai jam tiga sore. Permainan domino membutuhkan empat orang, permainan yang kami pilih dalah pembagian kartu hingga habis, jadi tidak ada istilah ngombe di permainan yang kami mainkan.

Hasil adalah hasil kesepakatan anatara delapan, orang yang kalah dicoret pakek angus dandang. Ketika itu Aku, Hafid (Mbah), Wedya, dan Singgih (Pratapsing) yang bermain. Sedangkan Pujianto (Jayus), syahrul, Somni (Gemol) dan Nur memilih menjadi profokator permainan.

Asik rasanya ketika dikenang, namun tidak saat angus yang diambil oleh lawan main mencoreng muka ganteng ini.

Jangan mencela dan esmosi dulu kawan saat aku mengucapkan kata ganteng pada diriku sendiri, karena aku sudah bilang di tulisan sebelumnya, kalau ganteng ku hanya bisa dilihat sama kedua orang tua ku...hehehehe

Ada yang bilang "masa SMA adalah masa paling indah"

Iya memang.
Tapi kami STM. Yang hanya ada Siti dan Nia berstatus siswi.

Dalam satu angkatan kami hanya dua orang itu saja yang berstatus siswi, selebihnya siswa semua.

Nelongsone koen mad.....!!! Iyo cak 

Tapi.....Untuk urusan diluar sekolah kami gak kehabisan cewek untuk dilihat.


Ya. Hanya dilihat.

Setiap hari kami hanya melihat cewek-cewek sekolah farmasi yang memakai setelah putih-putih sliweran didepan sekolah. Belum lagi saat pulang sekolah, jalur yang kami lewati menawarkan cewek-cewek SMEA Trunojoyo yang lagi-lagi untuk dilihat sembari mengendarai motor.

Yang beruntung akan dapet bonceng'er pastinya. Itu pun kalau kenal, kalau enggak ya sudah....... selesai.

Sayangnya aku lupa nama cewek paling cantik di SMEA Trunojoyo dari desa curah malang, menurut versi kami (Bukan kami satu STM).

Ok...... Sekarang ganti topik. 

Jangan bahas lagi masalah cewek, karena itu teramat ngenes untuk kami yang sekolah di STM. Walau dikenal kompak, namun kami monotone, seperti printer jadul yang hanya bisa cetak hitam putih.

Dalam urusan wali kelas, kelasku hanya dua kali ganti wali kelas.

Pertama, saat kelas satu. Orangnya penyabar banget, namanya Pak Wendy seorang guru teknik mesin perkakas, namun meninggalkan kami untuk menjadi dosen di UNEJ.

Kedua, Bu Sukati. Dengar nama Sukati (jangan rubah A menjadi E, karena akan menjadi tambah serem) saja serem rasanya. Beliau punya perawakan besar, raut wajahnya bulat dengan kulit coklat, matanya lebar, dan ada tahilalat di wajahnya.

Sebuah pilihan yang tepat untuk kelas kami yang bolosnya bergilir. Ya. Bergilir. Hampir setiap hari kelas kami tidak pernah nihil dalam masalah absain.

Bu Sukati menemani kami dari kelas dua dan tiga (Kami gak mengenal kelas belasan seperti sekarang), dibalik wajah dan nama yang seram, Bu Sukati punya hati yang lembut untuk saat-saat tertentu. Seperti halnya aku yang susah menyerap pelajaran yang Bu Sukati ajarkan, pelajaran yang menurut aku ruwet banget jika tidak menggunakan alat bantu kalkulator. Kebaikan Bu Sukati tidak pernah berhenti menuntun pelan-pelan kami sampai mengerti dan tetap mau meluangakan waktu untuk beberapa kali remidi demi kami memperbaiki nilai.

 Kalau masalah guru, kami di didik dengan banyak karakter.

  • Pak Mada : Waka Kesiswaan yang ditakuti seantero STM, namun juga dibenci karena perlakuannya yang kasar.
  • Pak Imam : Guru yang keluar dari akmil ini punya sifat tegas dan membangun.
  • Bu NN (Lupa Namanya) : Guru kimia ini punya hobi nyanyi, kadang kami nyayi dikelas kalau otak udah ruwet.
  • Bu Indah : Guru sabar yang ngajar bahasa inggris.
  • Bu Vita : Guru honorer yang mengajar di dua sekolah, benar-benar pekerja keras.
  • Bu NN (Lupa Namanya) : Mengajar wira usaha, meskipun sudah tua tapi tetap mengajari kami. wanita yang hebat
  • Pak Raden / Pak Super Mario (Nama Aslinya Lupa) : Bapak ini punya sopan santun yang T.O.P B.G.T
Lho kok wez panjang... hehehe

Ditutup ae lek ngunu, ben gak tambah dowo.

Sebagai penutup.Dalam foto ini adalah, dari kiri Mbah , tengah Wedya, Atas Vj Lie, kanan Pratapsing.



Alumni TPM2 STM Negeri Jember (Angkatan 2008).
4 Nov 2014 | By: vj lie

Dalam Sunyi Rowo Cangak

Doc Pribadi

Hari ini ketika orang-orang meneriakkan panas di status facebook, begitu pula yang aku rasa. Melihat bensin ditangki motor yang cukup untuk pergi dan pulang ke Rowo Cangak, aku mulai mempersiapkan diri untuk berangkat kesana.Hanya untuk sekedar membaca buku dalam rindang pepohonan dan ditemani semilir angin.

Waktu yang sama dengan aku yang lagi sumpek, sumpek tentang urusan pekerjaan dan bunyi bising dari kipas angin yang tanpa henti berputar diruang kotak berukuran 3 X 2,5 meter.Ya. Kamarku.
Aku berangkat dari rumah Jambearum jam setengah tiga sore, berbekal uang Rp.25.000 untuk keperluan yang tidak terduga dijalan.

Kamera, Buku, Tripod, dan Air sudah masuk dalam tas punggung merek Rei yang aku punya.

Langit lagi bagus hari ini, ada awan yang berjalan ditengah biru langit dan hijau tanaman di bumi, namun tidak semua hijau pastinya. Aku melewati jalanan berbatu kapur hasil tambang Gunung Sadeng, berjalan ditengah sawah yang banyak petani memaneh tanaman jagung miliknya. Adapula yang sedang berpanas-panasan mencetak bata dari tanah liat samping jalan dengan menutup wajahnya dengan kaos yang sudah usang.

Lalu melewati jembatan tua Sungai Bedadung. Jembatan ini terbagi atas dua bagian, bagian yang besar sebagai tempat kereta lori lewat, sedangkan jalan yang hanya selebar becak untuk pejalan kaki dan sepeda (motor). Aku yang melihat anak-anak dibawah jembatan menyempatkan diri untuk turun sembari memotret moment itu. Aku sudah lama tidak mengabadikan moment-moment kecil semenjak kamera yang aku punya aku gadaikan kesalah satu teman baik ku.

Saat aku melanjutkan perjalanan, aku bertemu dengan Pak Mantri.Beliau bukan juru suntik, namun Mantri memang nama yang diberikan orang tuanya. Pak Mantri ini langganan aku ketika aku masih menjadi sales makanan ringan, beliau ini memiliki toko kelontong yang sederhana, tapi sekarang lagi diperbesar.

Sesampai di Rowo Cangak aku menyempatkan untuk memotret beberapa hal terlebih dahulu, termasuk narsis seperti di foto. Kemudian aku merapikan pralatan dan menikmati suasana sembari membaca. Lima belas menit berlalu dengan sepi dan semilir angin, aku dikejutkan oleh suara berisik dari pungungan di depanku. Punggungan yang sudah masuk dalam kawasan Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) ini berada disebrang rawa, suara berisik itu berasal dari rusa betina dan beberapa monyet yang sedang kehausan, mereka turun kerawa untuk minum.

Punggungan didepan aku ini memang lagi gersang, dedaunan hijau yang biasanya menyelimuti bebatuan padas sedang berwarna coklat dan gugur.Satu jam tiga puluh menit aku duduk dipinggiran rawa, terasa begitu nyaman tidak terasa matahari mulai terbenam, sinarnya memberi warna jingga dilangit Rowo Cangak. Jalanan yang melewati ladang dan hutan sono ini membuat bergegas dan memilih untuk kembali kerumah agar tak terlalu malam sampai di rumah.

Hari adalah hari yang panas namun memberi rasa nyaman untuk tiga jam trakhir.



Salam dari kota kecil Jember.
3 Nov 2014 | By: vj lie

Mandi Di Bedadung

Doc Pribadi

Bedadung, begitu orang menamai sungai yang membelah Kabupaten Jember ini. Dimusim kemarau sungai ini jadi tempat andalan untuk bermain, mancing, pasang perangkap kepiting, angon wedus, dan renang bagi anak lengkong dan tamansari.

Biasanya ketika anak-anak sudah melepas wedus-wedusnya di pinggiran sungai yang berumput hijau mereka langsung menceburkan diri dialiran sungai bedadung yang kecil namun dalam ini. Aku yang lagi suntuk dirumah karena bingung dengan kerjaan, maka aku sempatkan jalan kesini, aku tertarik untuk turun saat aku melewati jembatan yang ketika itu liat anak-anak kecil baru saja melepaskan kambing-kambing miliknya. Tidak berfikir panjang lagi aku menitipkan motor merah kusam milikku kerumah penduduk dipinggiran sungai.
 
Sesampai aku disungai, ternyata dibawah sudah rame, ada dua laki-laki dan empat perempunan. Anak yang laki-laki langsung menceburkan dirinya ke sungai yang dalamnya sekitar 1,5-2 meter ini. Sedangkan anak perempuan main dipinggir dan memancing.

Entah dapat apa enggak tu entar. Lha wong sungainya diceburin gitu.... hehehe

Aliran Sungai Bedadung begitu bersih, sampai-sampai dialiran yang dangkal dasar sungai bisa terlihat, tapi itu hanya disaat musim kemarau.

Sungai Bedadung ini sebagai batas pemisah antara Dusun Lengkong dan Desa Taman Sari. Sungai yang hanya bisa dipakai main-main saat musim kemarau namun ketika musim hujan tiba Sungai Bedadung punya aliran yang deras dan keruh, dan aliran deras itu membawa sampah-sampah dari kota dan pinggiran kota melintas hingga ke laut.

Sampah-sampah tadi menyisakan bekas yang gak enak dilihat ketika kemaru tiba, ada plastik kresek, popok bayi, karung, dan masih banyak lagi yang nyantol di akar dan batang-batang bambu pinggiran sungai. Ketika kemarau, sungai yang punya lebar puluhan meter ini menyisakan aliran air yang lebar terbesarnya 3 meter saja.

Begitu banyak hutan bambu dipinggiran sungai menciptakan mata air yang begitu banyak, ditambah lagi Bedadung memiliki kedalaman yang lumayan, disini saja kedalam bedadung jika di ukur dari jalan sekitar 7 meter. Disamping itu hulu bedadung memang punya sumber mata air yang besar, Hal ini yang menyebabkan bedadung tidak pernah kekeringan.

 Kedepan semoga orang-orang bisa membuang sampah-sampah yang mereka produksi ketempat yang semestinya, bukan di Sungai atau di selokan.

Oh iya..... Sebagai penutup

Bedadung memiliki mitos yang asik bagi kamu yang suka dengan Jember, motosnya "Siapa yang mandi di Sungai Bedadung maka seseorang tersebut akan kembali datang ke Jember dan kemungkinan bisa menetap di Jember".



Salam hangat dari kota kecil Jember.
1 Nov 2014 | By: vj lie

Mbah dan Mbok

Mbah Sukur & Mbok Ni/Misni
Tadi sore aku berkesempatan memotret Mbah dan Mbok untuk keperluan keikut sertaan di BPJS, ini adalah foto Mbah Sukur dan Mbok Ni/Misni.

Mbah dan Mbok seorang pekerja keras yang dipertemukan di Desa Jambearum puluhan tahun silam. Aku juga belum tanya kisah senang dan dukanya saat-saat sebelum Emak lahir, yang jelas Mbah tidak mengenal yang namanya PDKT (Pendekatan) karena dulu Mbah dan Mbok dipertemukan lewat Perjodohan. Mbah seorang pengerajin Tahu, sedangkan Mbok seorang pengerajin Tempe. Desa Jambiarum sedari dulu tidak berubah untuk soal tahu dan tempe, rata-rata orang disini menekuni usaha rumahan ini. sampai-sampai ada yang pernah ngomong ke aku.

"Arek Jambearum masio sekolah dukur lek gak nemu kerjo, mentok-mentok'e dodolan tahu tempe"

Saat ini Mbah dan Mbok tetap setia menjadi pengerajin dan sekaligus menjualnya sendiri hasilnya. Madiri memang, cuman tidak untuk bahan bakau satu ini.

Ya. Kedelai.

Mbah dan Mbok masih ketergantungan dengan tersedianya kedelai dari negeri Paman Sam. Dua tahun kemarin ketika kedelai Amerika langka, Mbah dan Mbok sempat beberapa kali berhenti tidak berdagang dan mensiasati dengan memperkecil irisan ketika kedelai mahal. Mbah tidak mau ambil resiko dengan menggunakan kedelai dalam negeri, disamping susah mengembang saat perendaman, akibatnya Tahu yang dihasilkan tipis. belum lagi kendala soal pemberian cuka dan lain-lain yang aku tidak mengerti.

Memang ada jenis dalam negeri yang bagus seperti Kedelai Galunggung dan Kedelai Kretek tapi sekarang susah juga ditemukan, mungkin karena petani malas menanam kedelai.

Menjadi pengerajin Tahu dan Tempe ini menurun pada Emak yang tidak lain Ibu kandungku. Emak baru berhenti menjual Tahu dan Tempe saat usaha Bapak menunjukan hasil yang melimpah, ketika itu aku duduk di kelas 2 SD. Semenjak itu Emak berhenti dan lebih banyak dirumah, kadang kerumah Mbah untuk bantu-bantu.

Tehun 2009, Emak kembali bekerja menjadi penjual Tahu dan Tempe, berkeliling dari Jambearum hingga Meloko dan kadang Baguh, tergantung laris dan tidaknya dagangan yang Emak bawa.

Kembali Ke Mbah dan Mbok.

* Mbah adalah seoarang laki-laki yang Kuat, Keren, Ulet, Setia, Teliti, dan belum pernah aku lihat Mbah Marah pada siapapun alias penyabar dan sabar banget.

* Mbok Adalah Seorang perempuan yang Keren, Ulet, Pantang menyerah, Grusa-grusu, Suka Ngomel dan Cepat Naik Darah.

Perpaduan yang harmonis dari ciptaan Allah, karena jika seseorang punya sifat dan karakter yang sama persis dengan pasangannya berarti kosong dan kekurangan mereka tidak pernah terisi. Malah dengan adanya perbedaan justru akan membuat mereka saling melengkapi.

Selamat Mencinta Kawan.......
3 Agt 2014 | By: vj lie

Melawan Lupa


Perjalanan Vj dan Ovi
Satu tahun lewat dua hari sudah kita berproses dari kenalan hingga seperti sekarang. Dan kini tinggal menghitung hari kita melakukan ikatan pertunangan. Sepertinya aku masih kemarin mengenalmu lewat Pesan Facebook yang pertama kali kamu kirim.

" haii bee, ,, " isi pesanmu pertama kali tanggal 02/08/2013 19:55
" Yuhu " saut aku hingga berkelanjutan.

Keinginan kamu untuk mendaki G.Ijen mengantarkan kita saling bertemu di awal bulan September, dengan prasaan senang aku mengantarmu ke Ijen yang sebelumnya kamu aku jemput di Terminal Surabaya.

Hari-hari berlangsung dengan pesan dan telepon yang kita lakukan, sampai kita bertemu lagi di Jember bulan Oktober untuk menikmati Durian. Ya. Kebetulan pas itu musim durian di Jember.
November yang sedih bagiku. Aku kehilangan adik kandungku Alm.Amanu, Kamu ketika itu datang dengan membawa kado senyuman dari mata cantik di balik kaca mata itu agar aku juga tersenyum.

Dingin pegunungan Ijen memanggil untuk kita untuk bertemu kembali dan menikmati suasana dingin di bulan Desember. Tawa ceria anak kecil Dusun Curah Macan menghias di awal Januari 2014, aku masih ingat ketika malam itu kamu takut akan jalur yang kita lalui dengan lampu 12volt dari dari motor merahku, gelap dan kabut seperti lorong yang tanpa ujung. Pelukan erat dan hanya diam yang kamu tunjukan padaku saat itu.

Februari untuk pertama kalinya aku keliling Kota Gresik bersamamu, kamu menunjukan banyak hal saat kita berkeliling dengan motor matik yang kau pinjam dari adik pertamamu. Disiang yang panas kita makan di lapak milik Bang Aji, samping sekolah kamu dulu. Kita bernostalgia kecil disana, kamu menceritakan tentang menu dan cara kamu pesan makanan dari balik pagar sekolah.

Maret di Teluk Ijo yang gerimis. Yang aku ingat ketika jalan licin dan sempit, saat itu kamu terus ngecepres sepanjang jalan dari awal memasuki jalan setapak di hutan Taman Nasional Meru Betiri hingga sampai di Teluk Ijo, dan kembali dengan menggunakan perahu hingga Rajek Wesi.
April kita bermalam minggu di Kedai Lenquas, depan UNMUH Jember. Ayam bakar adalah menu yang kamu suka dikedai dengan tema koboi itu, daging yang empuk dan bumbu kecap manis yang melumuri ayam bakar membuat kamu menjadikan menu ini menu favorit.

"Ayo kapan kesana lagi? "

Bulan Mei dihari yang kamu sambut dengan senyuman. Ya. Saat tanggal kelahiran kamu di awal bulan Mei tiba, ucap syukur penuh kebahagiaan kamu tuangkan dengan makan bersama keluarga di Rumah Makan Apung, Gresik.
 Saat itu adalah saat pertama kali aku dikenalkan dengan kedua orang tua kamu. Setelan kemeja putih dengan garis kecil dan celana jeans aku bertatap muka dengan salam perkenalan pada kedua orang tua kamu.
Dedekan? Iya. itu pasti ada namun perlahan pudar dengan suasana akrab di meja makan.

Sunset indah di bulan Juni. Payangan menyugukan sunset yang indah, saat itu ketika kamu berada di puncak bukit dengan belai angin laut yang cukup kencang. hari yang melelahkan sedari jam 3 sore kita keliling Dusun Payangan hingga terbenamnya mata hari.

Pameran foto, sahur dan buka puasa di rumahmu. Bulan Juli aku diperbolehkan berkunjung kerumah kamu, kita melakukan ibadah puasa bersama, sekaligus berkeliling kota kelahiran kamu. Jalan-jalan di pasar malam dengan naik dermolen (keranjang berputar), kamu terlihat takut banget saat perlahan keranjang yang kita tumpangi berputar dengan alat bantu disel waktu itu. Sehabis menaiki demolen kita melihat-lihat dan berfoto di pameran foto milik komunitas fotografer yang berada dalam payung industri petrokimia.

Juli memang bulan yang essip.

Sudah memasuki bulan Agustus, minggu depan aku datang lagi ke Gresik dengan keluarga untuk proses pertunangan kita. Semoga lancar dan di ridhoi Allah. Amin....

Penutup :

Saat pertunangan nanti genap 1 tahun 8 hari kita berproses, yang aku harap hubungan kita tetap berjalan dengan lancar dan tanpa pertengkaran besar, dan pertengkaran kecil hanya menjadi bumbu untuk hubungan kita lebih kuat.
Amin...Amin ya Robbal Alamin

Oh iya.... satu lagi.

Semoga hari kamu bahagia dengan senyum tanpa ada jerawat di wajah yang sering membuat kamu jengkel.
14 Jul 2014 | By: vj lie

Masjid Baitul Mukmin Gumelar

Doc. Vj Lie
Masjid Baitul Mukmin terletak di Desa Gumelar, Kecamatan Balung, Kabupaten Jember. Masjid ini berada sekitar 8 KM dari tempat aku tinggal, pagi kemarin aku memotretnya, ketika aku dalam perjalanan pulang sedari rumah karya Panaongan di Patrang.

Sewaktu aku masih duduk di sekolah menengah kejuruan (SMK), masjid ini direnovasi dengan biaya yang di kumpulkan lewat amal jariah penduduk sekitar, jama'ah dan pengguna jalan yang melintas di jalan depan masjid. Amal yang dari receh di kumpulkan hingga berwujud masjid yang indah dan megah.

Setidaknya kita sudah bisa belajar dari ini, bahwa amalan kita akan berwujud megah nantinya ketika yang kecil-kecil kita kumpulkan dari sekarang.

28 Mar 2014 | By: vj lie

Amanu Pulang

Bapak, Emak, Amanu
 Malam kemarin aku masih tidur di Panaongan, sudah dua hari aku tak kembali kerumah. Aku sedang mencari info pekerjaan dari teman yang aku kenal. Malam kedua aku tak bisa tidur hingga subuh datang. Aku resah seperti ada yang aneh tapi aku tak tahu itu apa.

Malam hari sebangaun aku dari tidur siang aku putuskan pulang kerumah, sampai rumah Adik sudah tidur, tingga Emak dan Bapak yang masih menonton TV

"Amanu golek'i awaktu tok maolai sore mau" Kata emak

Amanu di ruang depan
Ahmad Amanu namun biasa aku panggil Manu atau Nu saja.
Amanu dilahirkan 17 Agustus 1993, dia dilahirkan tak seperti anak yang lainnya. Ya. Amanu cacat fisik dan keterbelakangan dia juga mempunya Step. pernah kutulikan sini Adik ku sayang

Masih aku ingat ketika itu.
Amanu tidak bisa berjalan, dia ngesot. Kakinya lumpuh tak kuat menopang badan dan kepalanya yang membesar. Namun hari raya idulfitri Allah memberi kado indah lewat kejadian yang amanu alami. Amanu jatuh dan kejang-kejang setelah aku tabrak saat aku asik bermain dengan temanku.

Amanu dilarikan kerumah sakit RSUD Balung ketika itu, menjalani rawat inap yang tak sebentar. Amanu kecil diberi selang yang diletakkan di tenggorokannya dan di sedot dengan alat hingga mengeluarkan lendir-lendir. Sejak kejadian itu Amanu punya perlakuan yang lebih dan bisa dibilang sangat lebih.

Setelah kejadian itu Amanu bisa berjalan, semua juga tak lepas dari pijitan Mbok Yem (Almarhumah) setiap hari. Kado yang indah diberikan Allah pada keluarga kami, sehingga Amanu tak lagi ngesot.

Amanu juga punya kabiasaan keliling kampung setiap sore, di bonceng Mbak naik sepeda motor.
Kadang juga aku atau Bapak, tergantung siapa yang sedang tak sibuk waktu itu. Rutinitas baru setelah Amanu bisa berjalan.

Sudah lama Amanu tak lagi keliling kampung sore hari sejang mbak menikah.

Amanu adalah adik yang aku sayang, dia meski tak sempurna dalam fisik namun punya hati yang lebih baik dari yang sempurna fisiknya. Perhatiaanya terhadap Emak begitu besar, subuh amanu sudah bangun untuk membangunkan Emak untuk bersiap kepasar. Itu rutinitas setiap hari sejak Bapak jatuh sakit sehingga usahanya bangkrut dan barang berharga habis di jual untuk kesembuhan Bapak. Kemudian Ibu yang bekerja menggantikan bapak mencari nafkah dengan berjualan keliling.

Aku sempat di telepon sama sama kakak, ketika aku masih bekerja di karawang.
"Amanu kate ngomong" kata kakak
"Opo Nu?"
"Kapan sampean balik Cak, gak kangen ta karo aku?"
"yo kangen rek.... emben cacak balik Nu"

Kegembiraan terdengar dari tawa girangnya ketika mendengarkan aku mengatakan akan pulang tak lama lagi.

Mendengar aku berhenti kerja, Amanu tak lagi memperbolehkan aku pergi jauh merantau lagi.

"Nu... Cacak'e budal (berangkat kerja jauh) maneh oleh?"
"Wez gak usah cak, meneng kene ae wez. Mak'e (Ibu) sopo seng jogo engkok?

Sedari itu aku ingin tinggal dan menghabiskan waktu di Jember, sesuai keinginan manu. Namun aku masih ingin jalan-jalan sebelum kembali bekerja untuk saat itu. Waktuku sering aku pakai buat jalan jalan selama setahun terakhir, dan beberapa hari keluar rumah.

Amanu selalu geridu ketika aku tak pulang kerumah beberapa hari, itu yang aku tahu dari obrolan Emak.
Termasuk malam itu, saat aku pulang dari Panangaon sampai Dia terlelap.

Pagi Hari 13 November 2013
Seperti biasa Amanu menjalani aktifitas pagi, membangunkan Emak dan menyiapkan beberapa dagangan sebisa Amanu.

Selang beberapa lama aku mendengar tubuh bongsornya jatuh lantai tanah ruang belakang.
Emak menjerit, dan keributan mulai terjadi. Beberapa tetangga datang dan mengangkat tubuh bongsor Amanu ke kasur yang tak jauh dari tempatnya jatuh.

Step Amanu kambuh, penyakit ini Amanu bawa sepanjang umurnya.
Tubuhnya kejang, dan mengeluarkan suara seperti orang ngorok.
Wajah emak Pucat.
Emak memijat kaki Amanu bagitu juga dengan bapak. Bapak memijat tangan-tangan amanu dengan perlahan.
Doa kesembuhan di panjatkan, situasi yang panik setiap penyakit ini kambuh.

Beberapa jam Amanu masih kejang-kejang, aku kemudian yang menggantikan Emak memijat kaki-kaki Amanu.
Menjelang siang tukang pijit datang dan Amanu mulai menampakkan kesembuhan. Dia tak lagi kejang-kejang namun tetap mengeluarkan suara seperti orang ngorok.

Tak ada pikiran untuk membawanya kerumah sakit ketika itu, ini hal yang sudah terulang berkali-kali sehingga kami menganggap ini akan sembuh setelah Amanu tak lagi kejang-kejang.

Seharian Manu tak makan dan minum, matanya yang punya tonjolan daging mengempes dan tubuhnya lemas. Aku perlahan masuk ke kamar dan menangis meminta pada sang Maha Agung (Allah) untuk memberinya kesembuhan.

Jam 21:00 wib
Aku mendampingi Amanu di ruang belakang, Emak saat itu tidur di kursi panjang tak jauh dari Amanu. Aku memeluknya, tubunya masih hangat, matanya mulai mengering kehabisan air mata yang seharian iya keluarkan. Sesekali aku kembali kekamarku dan membuka laptop, mencari info-info seputar apa yang amanu derita dan obatnya.

Jam 23:00 wib
Amanu mencuri perhatianku dengan suara-suara seperti ketukan. Dia memukul tembok berkali-kali untuk memanggil sebab dia tak lagi bisa mengeluarkan suara. Aku kembali mendekat dan memeluknya, menenangkan dia.

Amanu seperti orang yang bingung, pandangannya mengarah kesegalah arah dengan capat.
"Opo Le, Cacak nangkene"
"Wez ndang waras......"

Setiap aku beranjak meninggakalannya, Amanu berkali-kali itu juga memukulkan tangnnya ke tembok.
"Ini isyarat buatku, aku tak akan meninggalkan dia lagi" dalam batinku.

Aku mulai mengajaknya ngomong meski aku tahu dia tak bisa menjawabnya, menceritakan kenginginan kesembuhan buatnya. Sebab baru kali ini Amanu step dari pagi hingga malam tak juga sembuh. Suara Amanu mulai aku dengar ketika tengah malam, entah jam berapa waktu itu. sepertinya lewat dari jam 12 malam.

"aaaa...aaaa...aaaa" itu saja yang aku dengar, dia seperti memanggil ku berulang-ulang.
"Opo le? ngombe banyu gulo ta?" Aku lantas membangunkan Emak, menintanya membuat air gula.
"Manu wez ngomong Mak, gawekno wedang golo. kepingin ngombe iki mulai mau wetenge gak keisi" kataku pada Emak

Aku membangunkan dia, membuatnya berposisi duduk dengan aku sebagai sandarannya. Pelukan ku tak lepas meski aku meminumkan air gula ini sendok demi sendok.

Emak kebelakang, membuatkan bubur untuk Amanu.
"Waras yo le......." suara Emak yang ku dengar dari dapur dengan nada sedih.

Belum dingin bubur yang dibuat Emak, baru empat sendok air manis ini dia telan, Amanu yang aku peluk memegang tanganku sebelah kanan.
Tangan sebelah kiriku merasakan detak jantungnya yang semakin pelan berdetak beberapa menit terakhir hingga berhenti.

Hal yang tak bisa aku lupakan, Adik yang aku sayang meninggal di pelukanku tepat pukul 02:00 14/11/2013.

Aku mencoba membangunkannya, mengajaknya ngomong sembari memeluk erat tubuhnya. Ini seperti mimpi.
"Nu... ojok guyon Nu"

Emak menangis, piring bubur yang ditangannya diletakkan sembarang di ujung tempat tidur.
Aku menekan dadanya beberapa kali, sempat batuk namun itu hanya batuk yang tak membuatnya sadar dan membuat jantungnya berdetak kembali.

Beberapa hari kemarin aku sempat di peluknya dengan erat, Dia menunjukan bau harum rambutnya yang baru saja memakai shampo, memintaku tak pergi kerja jauh lagi. akhir pelukan Dia bertanya padaku.
"Sampean sak'aken gak Cak karo aku?"
"Yo sa'aken le...." sambil aku memelunya kembali.

Tuhan punya rencana lain untumu Nu, 20 tahun sudah waktu yang lama buat km ada dalam tubuh yang tak sempurna. Tuhan tak ingin melihatmu semakin lama menahan sakit dari kejang-kejangmu, sakit hatimu yang sering di ejek bocah yang jauh lebih muda darimu sampai kau marah. Aku juga tak ingin melihatmu menangis lagi dengan ejekan-ejekan yang membuat kuping panas itu, melihatmu iri karena tak bisa bermain selayaknya anak seusiamu.

Aku tahu km begitu baik hati meski mereka kerap membuatmu meradang.

Pesanmu akan Cak Lihin pegang, semoga Tuhan memberimu tempat yang indah dan rupa yang tampan. Disini Cak Lihin hanya bisa mengirimmu doa, menjaga Emak seperti yang kau pinta.
Selamat Jalan Adik ku..... Selamat Jalan.
22 Mar 2014 | By: vj lie

Lan Jalan ke Puncak B29 Argosari, Lumajang.

Bukit sebelum Argosari (Doc Pribadi)
Pagi masih basah, alarem ku berdering kencang pada pukul 06:00 wib. Mengingatkan aku untuk perjalanan ke Puncak B29 Agrosari, Lumajang.

"Ach... dering yang membuyarkan mimpi manisku kali ini"

Rasanya mata ini malas untuk membuka kelopaknya, namun aku sudah terbayang tentang sebuah puncak dan nanti aku berada di atas awan. Sebuah bayangan yang indah.

Aku seorang yang suka jalan-jalan, kali ini aku jalan-jalan ketempat yang belum aku kunjungi. Namanya memang mirip sabun, namun aku bukan sedang membahas sabun colek B29. Puncak B29 sendiri sebelumnya hanya aku kenal lewat beberapa artikel temen-temen dari lumajang, dan beberapa foto dari mesin pencari.

Foto Puncak B29 yang cantik menjadikan aku bersama teman-teman ingin mengunjunginya.

"Hallo...Aku mau otw ke senduro sekarang" Sms ku ke Mas Daniel.

Pagi itu Mas Daniel sudah berangkat terlebih dahulu ke Senduro, Lumajang. Dia menunggu aku, Yudha, dan Eko di Polsek Senduro.

Titik B29 berada di desa Argosari, Senduro, Lumajang. Kota yang berada disisi barat kota tempat aku tinggal (Jember).
Hari ini aku sengaja menumpang motor Yudha, sebab motor merahku lagi malas pergi ketempat yang tinggi. Maklum rantainya sudah tua.

Pemandangan sepanjang jalan dengan langit biru, sedikit menjadikan rasa lapar ini berkurang. Walau ketika sampai Kecamatan Senduro aku bingung cari tempat makan. Untung Mas Daniel punya langganan warung bebas di Senduro.

"Luwe aku mas, mangan nang endi iki?" Tanyaku ke Mas Daniel
"Mangan nang warung bebas kunu disek ae"
Setidaknya jawaban Mas Daniel memberi nafas lega buatku, walau belum tahu juga tutup atau tidak.

Nasi, Sayur Kangkung, dan Telur mengisi perutku yang dari berangkat tadi kosong, dan Es Teh Manis menjadi teman penutup.

Dari Senduro perjalanan kami menuju Puncak B29 masih lumayan jauh. cukup buat bokong ini terasa panas karena terlalu lama duduk.
Pikiran bokong panas mulai teralihkan ketika memasuki perbukitan lereng Gunung Semeru, samping kanan kiri jalan yang kami lalui begitu terlihat hijau dan puncak semeru yang terbalut awan putih di bawahnya, seakan awan itu menjadi cincin manis di puncak Mahameru.

Jalan menuju B29 (Doc pribadi)
Sepanjang perjalanan yang kami lihat hanya keindahan alam yang terhampar luas, hijau hutan, langit biru dengan kapas-kapas awan putihnya, tidak ada rumah atau pos-pos penjagaan. 

Setengah jam  perjalanan, kami sampai di perkampungan karena tak tahu arah kami menggunakan GPS (Gunakan Penduduk Sekitar) untuk bertanya, kali ini kami bertanya sambil ngopi dan makan bakso.

"Masih lurus terus mas, ikuti jalan" Jawab tukang bakso yang menunjuk arah Puncak B29

Jalan yang berliku kami lalui dengan pelan, rasa penasan akan puncak terus ada dalam hati. Ladang-ladang petani kentang menjadi penghias bukit yang terlihat kotak-kotak.

"Selamat Datang Dikawasan Wisata Desa Agrosari"

Akhirnya sampai juga.
Meski masih butuh sekitar lima kilo meteran buat sampai puncak. Setidaknya kami gak nyasar kali ini.

Hawa dingin mulai menembus kulit luarku, jaket tebal ini seakan basah. Basah hasil hempasan kabut tipis yang terus menyerang. Tanah yang kali ini aku pijak berada di ketinggian 2900 mdpl (Meter Dari Permukaan Laut). Tak terlihat apa-apa selain putih kabut yang kami lihat. Seakan kecewa yang terus ada dalam benak ketika yang terjadi tak seperti yang kubayangan.

Pasir berbisik, Gunung Bromo, Gunung Batok....Ach semuanya buyar karena kabut yang begitu tebal menutupi pandanganku.

Puncak B29 Agrosari, Senduro, Lumajang adalah tempat yang masih masuk dalam peta kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Tempat ini terletak di ketinggian 2900mdpl, jadi tak heran disaat-saat tertentu kabut begitu tebal yang menghalangi pemandangan disekitarnya.

Beberapa menit berlalu kami mulai disuguhi panorama alam yang megah, angin kencang menghempaskan kabut putih kearah barat dan membuka semua panorama yang sedari tadi tertutupi. Gunung Bromo, Pasir berbisik dan lain-lain juga terlihat.

Foto bersama-sama kita lakukan sebelum beranjak pulang.
Waktu yang mepet membuat kami mengakhiri perjalanan ini, paling tidak aku sudah tahu tempat dan jalurnya. Semoga aku masih diberi waktu untuk mengabadikan kecantikan alam Puncak B29 nanti.
view puncak B29 Foto : The Rizal (singgahlumajang)

12 Mar 2014 | By: vj lie

Sosok Itu Bernama "Dulitan"

Hem.... Pagi yang basah.
 
Jambearum, begitu desaku di sebuat olah banyak orang, berada di perbatasan kecamatan Puger dan Balung. Pagi ini genangan air bekas hujan semalam masih terlihat, dan Emak membuat suara khas dari sapu korek yang Dia pakai. Pagi yang tak berubah sedikitpun dari hari kemarin. Nenek-nenek menggendong cucunya dengan alunan suara mengayun dan cerita-certia. Burung-burung kecil tak mau kalah, suaranya melengking dari rimbun dedaunan bambu.

Rerumputan kecil memberiku mengingatkan aku tentang cerita-cerita dulu, certia masa kecil tentang Dulitan. Ya. Dulitan begitu orang
di desaku menyebutnya, Dulitan di gambarkan sebagai orang yang membawa karung dan celurit di tangannya, dalam karung berisi kepala anak kecil untuk dijadikan tumbal ketika musim buka giling.  

Emak selalu tak lupa memberi tahuku untuk berhati-hati ketika main, tak jarang Emak melarangku bermain ketempat yang jauh dan saat sorop (senja) tiba.

"Le lek beduk balek, lek dolan ojok adoh-adoh wedi onok dulitan" begitu ketika emak mengingatkan aku saat hendak bermain.

Letak desa ku yang tidak begitu jauh dengan kebun tebu milik Pabrik Gula Semboro menjadikan cerita Dulitan begitu melekat dalam keseharianku. Tambah-tambah saat tanaman tebu mulai berbunga dan beberapa lahan siap untuk di tebang.

Dalam fikirku tak pernah menjadikan cerita ini sebagai lelucon, lelucon orang tua yang tak ingin anaknya bermain terlalu jauh.

"Mungkin karne aku masih kecil"

Seirama dengan kawanku bermain.
Ketika itu aku sedang asik bermain neker di bawah rimbun pohon bambu, seketiak akaget dan reflek berlari kencang hanya karena melihat orang yang mirip dengan Dulitan. Membawa karung yang tak penuh dan membawa celurit, namun yang aku lihat tak membawa aret (celurit) ditangannya. Aku tak sempat berfikir itu adalah seorang pemulung, cerita yang begitu melekat dalam benakku menjadikan aku langsung lari tunggang langgang ke arah rumah.

Hahahaha.... Ketakutan yang berlebihan.

Hingga sekarang aku belum tahu jelas tentang Dulitan yang di katakan Emak. Tentang sosok yang membawa celurit dan karung yang bertugas memotong kepala anak kecil untuk di jadikan tumbal pabrik gula ketika akan buka giling.

Entah itu benar terjadi atau hanya propaganda era penjajahan Belanda?

Ach...Yang jelas itu sudah membuat aku takut.

Sudah bertahun-tahun cerita tentang Dulitan tak lagi aku dengar. Nenek-Nenek yang menggendong cucunya tak menceritakan tentang itu lagi, anak-anak kecil bermain kemana dia suka hingga berjam-jam juga tak lagi di wanti-wanti kan adanya Dulitan.

Syukur, cerita itu hanya berhenti kepadaku, sehingga anak-anak kecil sekarang tak lagi merasa ketakutan dan terlalu curiga. Terlebih pada pemulung yang sedang mencari nafkah.

Tertawa kadang saat berkumpul dan mengenang masa lalu. Masa kecil yang menakutkan dan menjadi lelucon saat masa remaja.

Catatan :
Seorang teman mengatakan pernah bertemu dengan Dulitan ketika Dia masih kecil, sosoknya sama seperti yang di gambarkan Emak pada ku. Namun itu tak di desaku, tapi di Pasuruan jauh dari Jember tempat aku tinggal.
11 Mar 2014 | By: vj lie

Sang Patriot (Letkol Mochammad Sroedji)

Penulis Buku : Irma Devita
"Mas iku seng nang depan pemda patung'e sopo?"
"Jenderal Sudirman ta?

Pertanyaan itu mengawali aku mengenal sosok tegap berdiri menghadap alun-alun kota jember. Ya. Patung tegap dengan Samurai di tubuhnya itu. Aku bertanya pada Mas Bro ketika ngobrol santai di Panaongan, pertanyaan yang sederhana dari orang yang penasaran tentang patung yang berdiri tegap depan Kantor Bupati Jember.

Mas Bro mulai menjelaskan tentang sosok itu. Dia seorang pahlawan berpangkal Letkol, Mochammad Sroedji namanya.

Ketika aku masih duduk di Sekolah Dasar di desa kecil yang berada di selatan kota Jember. Aku sama sekali tak melihat nama Mochammad Sroedji di daftar nama pahlawan yang ada dibuku sejarah.
Aku hanya mengenal sosok Jendral Sudirman yang menyandang Samurai di badannya, jadi maklun jika aku menyangka sosok tegap itu adalah Jendral Sudirman.

Aku hanya warga desa yang dekat dengan pesisir selatan Jember, jauh dari hiruk pikuk kota yang sabenhari bisa memandangai patung besar nan gagah yang tak pernah lelah melihat warga jember sibuk dengan pekerjaannya.

Lalu bertanya, siapa dia?

Awal tahun 2013 aku baru tahu kalau itu adalah pahlawan kota kecil ku. Lewat obrolan santai dan kopi hitam menjadi sajian aku mulai mengenalnya, cerita Mas Bro di dunia nyata maupun maya atau blog mulai membuka pengenatuanku terhadap Letkol Moch Sroedji.

Hari berganti dengan beriringan, aku mulai mengenalkan pada beberapa teman yang singgah ke Jember untuk mengenalnya. Mengenal seorang pahlawan yang romantis dan tak diketahui warganya sendiri. Sepertihalnya aku dulu.

Senopati Kecil, begitu aku mulai mengenal sosok Letkol Muchammad Sroedji lewat buku Sang PATRIOT. Dalam buku berkisah tentang perjalanan Senopati sedari masih belia yang mengalur lembut dengan kisah Persahabatan, Cinta, Pengorbanan, dan Penghianatan.

Aku bukanlah sejarawan, tapi aku menikmati sejarah jika di tulisakan mengalir dengan bukti yang benar dan dikemas secara santai, bukan seperti buku pelajaran atau seperti berita yang hanya bermodal sumber-sumber dari internet dan buku tanpa menggali lebih dalam pada pelaku sejarahnya.

Buku Sang Patriot memberi angin segar bagiku, bagi orang yang malas membaca buku tebal soal kepangkatan pahlawan dan tanggal-tanggal yang begitu banyak serta nama-nama asing. Aku bukan pembaca yang baik untuk buku-buku sejarah seperti itu, sebab aku penyuka buku-buku yang bercerita dengan susunan kata indah. Sang Patriot adalah Novel Sejarah, menuliskan tentang sejarah kepahlawanan sang Senopati Kecil ketika melawan penjajah.

Aku begitu menikamti alur cerita sang Senopati, tentang cintanya pada seorang kekasih yang menjadi ibu dari anak-anaknya, begitu juga tentang gaya dia menenangkan dan menghibur sang istri.

Ach...Aku terjebak dalam roman Senopati.

Senopati yang mencintai kekasihnya harus rela tak melihat anak dan istrinya beberapa minggu bahkan beberapa bulan untuk bertempur melawan penjajah. Seperti yang pernah di katakan Mas Bro "semua punya nilai". Senopati menilai perjuangannya begitu penting melawan penjajah untuk anak, cucu, dan penerusnya nanti agar tak menjadi jongos di negaranya sendiri. Pemikiran sepasang suami istri ini juga tertuang dalam novel, yang menjadikan kita terbawa arus untuk tak berhenti dahulu sebelum selesai membaca.

Namun aku mulai bosan ketika beberapa lembar yang aku baca mulai ke arah tanggal dan beberpa istilah asing, baik istilah jepang maupun belanda.

Tapi tersemat nama Soebandi, yang sekarang menjadi nama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di Jember. Soebandi adalah sahabat Sroedji, beliau menjadi dokter militer ketika itu. Sepasang sahabat ini berjuang bersama dalam menumpas penjajah.

Aku bukanlah seorang pengingat yang baik, makanya aku mulai jenuh dengan kata-kata asing itu, dan mulai semangat lagi saat cerita persahabatan tersemat di dalamnya. Ketika mulai memasuki lembaran tengah buku, penulis rupanya menceritakan kembali kisah-kisah heroik dan kebesaran cinta.

Tentang Suami yang di bandrol 10.000 Gulden, hidup maupun mati.

Istri mana yang rela Suami tercintanya di wartakan sebagai pemberontak oleh belanda dan di beri hadiah 10.000 gulden bagi siapa yang bisa menangkapnya hidup maupun mati. Tentunya tak ada. Begitu pula dengan Rukmini (Istri Sroedji), Rukmini geram namun masih bisa tersenyum sebab dengan berita itu meyakinkan dia kalau Suaminya masih hidup dan tetap berjuang untuk Tanah Air.

Didikan ketika menjadi Perwira  PETA membuat Sroedji berani dan kuat, sampai ketika agresi militer ke 2. Ketika Jepang kembali ke negara asalnya dan Belanda masuk kembali ke Indonesia.

Pertempuran hebat yang mengakhiri langkah kecil Senopati terhenti. Penyiksan padanya mulai terjadi meski sudah tak bernyawa, sampai darah menjadi perekat debu-debu jalan pada sekujur tubuh, kerikil jalan menjadi amplas alami yang membuat kulitnya tergores. Dia diseret oleh truk pasukan Belanda. Rukmini yang mendengar kabar itu mengunjungi tempat istirahat terakhir sang Suami tercintanya, menggandeng buah hatinya ke gundukan tanah yang tertancap batu nisan.

Novel sejarah ini begitu membiusku, seakan aku masuk dalam lorong waktu yang menjadikan aku berimaji tentang situasi saat itu. Saat nama mulai disamarkan demi keselamatan, ketika Istri yang sedang mengandung delapan bulan berjalan dari Jember ke Kediri, ketika sahabat harus berpisah akibat penghianatan sang anak buah, dan ketika anak tak lagi bisa melihat sang bapak.

Membaca buku ini mengingatkan aku tentang sosok anak kecil yang tak tahu pahlawan kotanya sendiri. Ya. Itu aku.

Jika di tanya :
Siapa pahlawan kota Jember? Aku akan lantang menjawab Mochammad Sroedji, Soebandi dengan lantang untuk saat ini.
Tapi apa itu akan seirama dengan anak-anak usia SD atau SMP yang ada di sekitarku? Sepertinya tidak. Mungkin mereka akan menjawab dengan nama-nama lain yang tertera di buku pelajaran sejarah, atau masih sibuk menuliskan kata kuci di mesin pencari.

Sejarah memang memosankan jika ditulis hanya untuk menyampaikan pesan, namun jika ditulis dengan cerita yang apik akan menjadikan kita senang membacanya tanpa harus kesal dengan tanggal-tanggal dan istilah-istilah asing di dalamnya.
Sang Patriot


10 Mar 2014 | By: vj lie

Vjlie Belajar Menulis

vj lie di cafe gumitir
Awalnya hanya tulisan oret-oretan saja yang aku punya, dengan secarik kertas aku menulis hal-hal penting, unik, dan tak ingin aku melupakan semua itu. Namun tulisan kecil itu terbuang juga pada akhirnya. Begitu terus dan berulang hingga aku mengenal dunia blog.

Blog memungkinkan semua tulisanku tak terbuang dan hilang, atau termakan tikus saat ditulis di buku catatan.
 
Aku mengenal blog sedari 15 November 2012, ketika itu aku datang di acara sederhana dan sekaligus acara tahun pertama pernikahan Mas Hakim dan Mbak Prit. Dari mas Bro (sapaan akrab mas Hakim) aku mulai mengenal menulis di blog, ada perbedaan saat itu, meski sama-sama menulis. Lantas aku tak langsung membuat saat itu, aku masih bimbang.

Saat aku menulis di blog aku merasa canggung, piye maneh tulisanku semrawut dan pokok mecotot.

Malu? Ya. 
Itu terjadi padaku ketika awal pertama aku menulis. Siapa yang tak malu ketika tulisan itu hanya bisa memuaskan diri sendiri, dan belum bisa dinikmati oleh banyak orang.
Bingung? Pasti.
Saat pertama menulis aku bingung apa yang mau aku tulis, beda hanya saat secarik kertas-kertas yang aku goreskan pena untuk sekedar tak lupa.

Menulis di blog berarti memberi kesempatan pada orang untuk menilai tulisanmu. Meski blog bisa di buat tertutup atau tak biasa di komentari, Namun itu kurang menantang untuk aku yang sedang belajar menulis di blog.

Bermodalkan Tablet aku mulai menulis sebisanya, menulikan apa yang aku lihat dan aku rasa saat itu. setidaknya ini bisa menggantikan secarik kertas yang pernah aku pakai sebelum mengenal blog. Sempat terhenti sebentar, tepatnya beberapa bulan. Aku menghentika menulis untuk belajar merangkai kata lewat membaca beberapa buku dan blog, gaya penulisan yang mengalir juga tak luput aku pelajari, hingga saat aku menuliskan ini.

Aku mempelajari itu karna aku tak mau tulisanku belepotan, dan semrawut kayak Mie Apong dalam mangkuk.

Namun semuanya bisa di atasi ketika sudah terbiasa. Bisa itu bisa karena kita sudah tebiasa asal mau belajar. Bisa Karena Terbiasa inilah yang mendorong aku harus tetap menulis, toh nanti juga bakalan terbiasa menulis. Halah kok dadi ruwe se.

""jika umurmu tak sepanjang umur dunia, maka sambunglah dengan tulisan.." Pramoedya Ananta Toer. Kata-kata ini pernah di ulang oleh mas Bro yang membuat aku tambah pengen menulis.

Kata yang membuat aku tak ingin di lupakan begitu saja oleh orang-orang sekitar ku. Aku ingin orang-orang terdekat masih bisa mengenang sosok vjlie (aku) dari tulisan yang aku buat, ketika aku sudah terpejam dan terkubur dalam tanah nanti.

Sampai saat ini aku masih belajar merangkai kata yang tepat untuk tulisan-tulisanku, meski itu hanya tulisan sederhana, sesederhana aku ketika curhat. Paling tidak tulisanku mengalir dan tak membuat orang malas membaca ceritaku, celoteh dari anak desa yang tinggal di selatan kota Jember.
3 Mar 2014 | By: vj lie

Menjemput Peri Kecil

Ove di cafe Wuluhan, Jember
SMS dari Ovi masuk berkali-kali dalam ponselku. Ya. Peri Kecil, begitu aku menyebutnya. Dia mengingatkan aku untuk Sholat Jum'at dan janjiku yang akan menjemputnya di Terminal Bungurasih. 

"Say kamu jadikan jemput aku nanti di Surabaya" Dia meragukak janjiku karna kemarin aku sempat tidak enak badan.
"Iya aku jemput" Dalam pesan balasanku pada Ovi.

Hari Jum'at yang panas.

Motor warna merah milikku sudah siap mengantarku diterminal Jember, Ketika itu jam 1 siang, saat panas masih menyengat dikulit. Namun aku sudah janji. Setibaku di terminal Tawang Alun, aku memarkirkan motor di dekat pintu barat terminal.

"Di ambil nanti malam pak" Sembari aku menanda tangani buku parkir yang tertera nomor polisi sepedah motorku.
"Rp.5000" kata petugas parkir yang memberi ku karcis.

Ini kali kedua aku menjemput Ovi di Terminal Bungurasih, dengan alasan yang sama aku menjemputnya kembali.

Semua karena Sayang.

Ada yang bilang kayak gak ada kerjaan aja dari Jember ke Surabaya lalu ke Jember lagi di waktu itu juga, tapi itu bukan masalah buatku. Sebab yang masalah buatku adalah seorang perempuan yang sekarang aku sayang naik bus dari Surabaya ke Jember sendirian pada malam hari.

Khawatir dan takut terjadi apa-apa membuat aku menjemput Ovi di Surabaya. Perjalanan seperti ini hanya saat Ovi berangkat malam saja, jika berangkat pagi aku tak menjemputnya di Surabaya. Aku biasa menunggunya di Terminal Jember sembari bertemu kawan lama jika Ovi berangkat Pagi dari Surabaya.

Ovi memang sudah beberapa kali ke Jember, Dia menghabiskan waktu libur ke Jember ketika sudah penat dengan pekerjaannya yang di Surabaya. Tentunya juga bertemu dengan Ku.

Jam 13:30 wib

Aku mulai menaiki Bus Patas Jatim menuju Surabaya, kali ini aku menaiki Bus P.O Mila. Bus yang aku tumpangi cukup nyaman dengan kursi empuk dan kamar kecil dekat pintu belakang, namun sekarang ada yang membuatku tak nyaman ruangan AC dalam bus membuat bau duren gak hilang-hilang.

"Ach... Kenapa duren di bawa masuk???" pikirku kesal.

Beberapa menit aku mengalihkan perhatianku dengan bau duren di ruangan dengan memandangi arah luar gak cukup buat rasa mual ini hilang. Tempat dudukku mendukung untuk ini, sebab aku duduk di samping kaca yang bisa melihat banyak variasi pemandangan, sawah, rumah, dan pasar. Tapi mau gimana lagi semua itu gak membuat mual ini ilang.

Ponsel ku ambil saku jaket sebelah kanan dan sms ke Ovi.
"Say perut aku gak enak, munek-munek rasane"
"knp lho"
"Bau duren dalam bus"
"hahahaha.... Bukane enak bau duren"
"Megelno, lek mambu keterusan yo gak enak pisan"

Upaya mengalihkan perhatian dari perut mualku dengan SMS juga gak membuahkan hasil, yang ada aku malah pusing dengan huruf kecil-kecil yang aku ketik dari HP ku.

"Sudah dulu ya, aku tambah mual" SMS trakhirku pada Ovi dan sekaligus aku menyenderkan kepala berharap bisa tidur.

Alhamdulillah aku bisa tidur akhirnya.

Aku terbangun dan bau itu serasa sudah akrab dengan hidung dan perutku.
"Sudah sampai Probolinggo, masih kurang separuh perjalanan", aku mulai tenang dan memulai percakapan dengan orang yang duduk di sampingku. Sepertinya aku tidak asing dengan logat dari bapak ini.

"Asalnya dari mana pak?" tanyaku untuk menjawab rasa penasaran yang sepertinya aku mengenal logatnya.
"Dari Sumedang"
Nah.... Benar, aku tak salah menebak asal bapak ini tinggal. Logat sunda itu terasa tak asing untuk telingaku. Jadi ingat dulu ketika aku masih berada di Karawang. Ya. Aku sempat tinggal di tanah Pasundan beberapa tahun, jadi logat itu terasa tidak asing bagiku.

Percakapan terus berlangsung hingga sampai kota Pasuruan, dan aku kembali memangdangi arah luar yang menyajikan masih kokohnya bangunan-bangunan kuno masa penjajahan Belanda dulu. Beberapa bangunan tak terurus, dan beberapa lagi bagus dengan pemanfaatan sebagai tempat makan. Andai aku punya uang banyak, aku juga ingin punya tempat bergaya bangunan Belanda yang kujadikan Cafe. Seperti mimpiku di bangunan bekas Jember Outlet.

Senja di langit pasuruan mulai berganti malam, dan sudah tidak terhitung berapa kali aku ganti posisi duduk.

"henggggg....hengggg..." HP ku bergetar. Oh...Dari Ovi yang menanyakan posisiku
"Sudah sampai mana?" Dia beberapa kali menanyakan itu, hanya ingin memastikan jika nanti ketika dia berangkat dari Geresik aku tak terlalu lama menunggu di terminal.
"Sudah masuk tol, sebentar lagi sampai kok"
"Aku siap-siap, bentar lagi berangkat dari rumah, disini grimis"

Bus yang ku tumpangi mengurangi kecepatannya.
"Sepertinya sudah mau keluar tol" namun aku salah, ternyata macet panjang berada di depan.
"Ach...bakal lama nie" beberapa menit berlalu dengan bus berjalan lamban sampai aku tiba di Terminal Bungurasih.
"Aku sudah sampai terminal Say"
"Aku masih di bus mungkin akan lama, soalnya macet" Ovi terjebak macet yang sama sepertiku tadi.

Di bawah lampu jalan aku menunggu Ovi dan berpindah ke warung pojok terminal ketika perut ini mulai membunyikan suara khasnya yang sedang kosong.
Nasi Campur dengan lauk rempelo dan minuman teh manis hangat mengisi perut ku, tak tersa sudah 30 menit dan aku memesan Kopi Hitam untuk menemani ku menunggu Bus P8 yang di tumpangi Ovi datang.

Pijat di Trotoar Terminal Bungurasih
Terlihat dua bapak-bapak berjalan ke arahku dengan membawa gulungan karpet yang cukup besar, entah itu apa. Aku hanya memperhatikan dengan santai di bangku depan warung. Bapak itu menyapu trotoar jalan samping barat warung, di bawah pohon rindang yang aku tak tahu nama pohonnya. membersihkan kubangan air dengan sapu korek dan menggelar karpet yang dibawahnya.

"Mau apa bapak ini?" tanyaku dalam hati.

Di gelarnya kasur tipis dengan sprei dan lengkap beserta bantal di atas karpet tadi. Aku baru tahu maksudnya setelah salah satu orang menghampirinya meminta di pijat. Dua bapak ini adalah tukang pijat di trotoar Terminal Bungurasih. untuk memijat bapak ini menggunakan "hand and body lotion" untuk memper mudah ketika mengurut otot-otot yang letih dari si pasien.
Hiruk pikuk dalam terminal bukan menjadi alasan dua bapak ini. Aku melihat salah satu bapak itu mulai memijit dan terlihat sangat piawai, namun sayang aku belum bisa ngobrol panjang dengan tukang pijit satu ini, sebab bus yang di tumpangi Ovi sudah datang di terminal.

Ovi yang memakai jaket merah muda kesayangannya mulai melangkah turun dan menjumpaiku. Kami mulai ngobrol tentang perjalanan tadi, perut mualku, macet, dan lain-lain sembari berjalan menuju keluar untuk menumpang bus ke Jember.
27 Feb 2014 | By: vj lie

Kerupuk Sambel / Kerupuk Sambal

Foto : Vj Lie
Waktu itu aku masih duduk di kelas 3 sekolah dasar SDN Jambearum 4, Sekarang menjadi SDN Jambearum 1, Puger. Sewaktu istirahat begitu banyak varian jajanan yang bisa di beli di warung-warung yang ada di dalam sekolahan ketika itu. Namun hanya Kerupuk Sambel yang bisa aku beli ketika uang saku ku mulai menipis.

Bisa di bilang titik penghabisan juga sih.

Kerupuk Sambel yang aku maksud bukanlah kerupuk yang ketika membuatnya (adonan) di campur dengan sambel. Kerupuk Sambel yang aku maksud adalah kerupuk dengan tambahan sambel saat memakannya.

Beklik begitu aku memanggilnya, sering kali aku membeli kerupuk sambel ke Beklik, dengan harga Rp.100, ketika itu aku sudah dapat 3 kerupuk dan 1 sendok sambel. Dulu Beklik yang berjualan di gang antara ruang kelas 2 dan 3. Kerupuk yang di pakai bermacam-macam mulai dari kerupuk puli, kerupuk tempe, dan kerupuk biasa juga jadi nikmat ketika di tambah sambel yang Beklik buat.

Cara makannya.
Aku biasa memakan Kerupuk Sambel dengan cara mematahakan kerupuk sedikit demi sedikit sembari di dulit ke sambel, begitu seterusnya hingga habis.

Untuk rasa jangan di tanya, pasti mak nyuusss....

Sambel yang dipakai adalah sambel pecel yang masih kering. Sambel pecel memiliki rasa pedas dan punya sedikit rasa asam juga bau daun jeruk membuat kriuk gurih dari kerupuk tambah enak.

Setelah aku tamat SD, aku melanjutkan sekolah di SMPN 2 Balung. Aku kira aku sudah tak bisa menikmati kerupuk sambel lagi, namun itu salah. Aku masih bisa menikmati kerupuk sambel meski harus ngomong minta sambel kering dulu ke penjual pecel di sekolah terlebih dulu. Di SMPN 2 Balung aku hanya 1 semester kemudian aku pindah ke SMPN 1 Puger, di sini aku juga masih bisa merasakan kerupuk sambel di warung Mbah Nen, namun ketika aku lulus SMP dan bersekolah di  kota (Jember) aku jarang makan kerupuk sambel.

Sewaktu STM aku makan kerupuk sambel hanya saat berada di rumah saja, ketika ada hajat di rumah dengan menu nasi pecel, aku pasti makan kerupuk sambel. Sebuah hal yang tidak bisa dilewatkan begitu saja.

 Begitu juga dengan sekarang.

Besok di rumah ada pengajian kelompok ibu-ibu, dan Emak membuat nasi pecel dengan sayur Bung Bambu dan Kates (Pepaya) untuk sajian makan besok sore. Emak membuat sambel pecel tadi sore sebelum adzan magrib berkumandang. Meskipun sekarang aku sedang pilek dan batuk kering tetap saja aku masih makan Kerupuk Sambel malam ini. Bukan maksud aku membandel tapi Kerupuk Sambel sulit untuk di lewatkan.

Sambel pecel yang di buat Emak kali ini tidak begitu pedas, tapi rasa Asam Jawa dan Daun Jeruk Nipis begitu tersa di lidah.

Oh iya, ada yang lupa.

Malam ini aku sudah menghabiskan 7 kerupuk dengan 3 sendok makan sambel pecel kering.
Hehehe....



25 Feb 2014 | By: vj lie

Ikan Betik


Foto : wikipedia.org
Seminggu ini aku mulai rutin menyambangi sungai di barat rumahku. Ya. Memancing, jaraknya sekiar 1 Km arah barat dari rumahku.

Aku mulai di kenal kegiatan memancing ketika aku masih duduk di bangku SD, entah kelas berapa. Aku lupa. Bapak yang mengenalkan aku tentang kegiatan ini, ketika aku pulang sekolah, bapak mengajak aku memancing di Kali Sumber. Kali Sumber menjadi tempat favorit di desaku untuk mencari ikan, tempatnya yang rimbun menjadikan kerasan berlama-lama disini.

Bapak tidak hanya mengajak aku memancing di Kali saja, terkadang juga mengajak aku memancing di kolam pemancingan. Sempat aku jatuh di kolam waktu itu, ingin ketawa jika aku ingat kejadian itu.

Ceritanya begini.

Waktu itu siang, matahari terik dan aku mulai bosan sebab tak ada satu ikanpun yang mau nyantol di kailku. Aku berpidah dari tempatku yang panas dan duduk di bawah pohon yang ada di pojok. Pancing sengaja aku letakkan asal di sampingku, Selang beberapa menit aku mengambil palesanku dengan saitan kecil. 

Byurrrr...

Sontak semua orang kaget dan menoleh ke arah ku yang ada di pojok. Sebab waktu itu hening karna tak ada ikan yang makan. Bapak kaget dan langsung lari kearahku dan menolong aku dari kolam. Lumayan kaget dengan tarikan ikan besar itu yang membuat aku terbawa kedalam kolam, maklum tubuhku kurus, jadi sangat mudah buat ikan besar yang kesakitan krena kail menarikku masuk kedunianya. Dunia air.

Kembali ke sungai.

Aku mulai bersiap memancing sekitaran Jam 2 siang, cek mata kail, senar,  dan palesan.

Aku memancing tentunya tidak sendiri, aku bersama adik sepupu yang masih sekolah kelas 3 SMP. Namanya Roby. Kami mulai menyusuri galengan sawah untuk menuju sungai, sepanjang jalan hanya hijau tanaman padi dan langit biru yang aku lihat, namun terkadang mendung. Entah berapa hektar luas semua sawah-sawah ini.

100 hektar kayaknya, mungkin juga lebih.

Tak jauh dari Kali Sumber, aku dan Roby mencari Cacing dan Precil untuk Baren mancing. Gak tahu kenapa, kalau liat Precil di rumah geli, tapi pas buat mancing, eh malah ngumpulin banyak buat baren mancing. Precil itu sebutan kodok yang masih kecil.

Ini dia incaran kami, Ikan Betik.

Ikan Betik di beberapa tempat mempunya nama berbeda, ada yang bilang Ikan Betok ada juga yang bilang Ikan Papayu. Pada intinya sama saja, Ikan yang di maksud itu adalah ikan yang warna hijau dan punya duri tajam di punggungnya. Kalau beruntung kami juga mendapat Ikan Lele berukuran sedang hingga besar di sungai ini (Kali Sumber). 

Oh iya. Ikan Betik ini punya nama ilmiah Anabas testudineus.
keren....

Ikan Betik bisa di bilang cukup kuat untuk bertahan di luar air, bahkan untuk beberapa jam. Penyebarannya juga cukup luas, tidak hanya di tanah air tercinta ini saja, tapi juga ada di India, Tiongkonk dan beberapa negara di Asia Tenggara.

Ikan Betik Goreng
Ikan air tawar satu ini enak rasanya, disampig itu juga ikan ini tergolong tidak amis. Satu lagi, saranku di goreng dengan garing agar tulangnya juga bisa ikut dimakan karena renyah.

Hari ini (25/02/2014) aku dan Robi mendapat Ikan Betik lumayan banyak, jumlahnya 20 ekor. Cukup buat perut aku kenyang dengan ikan sebanyak itu. Aku juga terkadang memetik kangkung untuk teman menyantap ikan betik, aku memetik kangkung di sepanjang jalan yang aku lalui ketika pulang dari mancing.

Kangkung dengan batang hijau kerap tumbuh di samping galengan, kangkung jenis ini punya rasa essip di lidah orang desa sepertiku.

Sawah dan Sungai memberiku banyak sumber makanan yang bisa di manfaatkan setiap hari. Galengan sawah menjadi tempat bertumbuhnya kangkung merah maupun hijau. Sungai pun juga demikian, Ikan Betik, Wader, Keting, Lele, dan Gabus bisa di dapat dari sungai. Betapa nikmatnya jika kita bisa selaras dengan alam. Alam yang memberikan begitu banyak sumber kehidupan, dan kita tinggal memanfaatkannya sebaik mungki tanpa harus merusak karena keserakahan.

Hem....
Sudah panjang rupanya. Ya sudah, aku sudahin dulu cerita ringanku ini.

Harapanku : Alam ini tetap lestari sehingga nanti cucu-cucu kita dapat memakan ikan sebagai sumber protein dengan hanya memancing di sungai dekat rumah kita.

Salam Lestari.
23 Feb 2014 | By: vj lie

Sejarah Backpacker

Foto : Jember Backpacker
Saya adalah salah satu orang yang bergabung dalam wadah komunitas Backpacker Jember, sudah satu tahun aku menjadi anggota dan baru beberapa bulan terakhir menjadi admin dalam grub Facebook.

Berawal dari hobi jalan-jalan aku mulai mengenal istilah Backpacker, namun aku belum paham tentang istilah itu. Perlahan tapi pasti saya mencoba memahami istilah itu dari jalan bareng dan saling bertegur sapa saat berselancar di dunia maya. Dunia maya menghubungkan saya dengan anggota komunitas backpacker lain hingga beberapa orang sempat ketemu nyata, baik menjadi tamu atau menjadi tuan rumah.

Malam kemarin saat saya bersama Dav dan Yudha.

Saya bersama kedua sahabat saya ngopi di sekitaran Wuluhan (masihdalam kota kecil Jember), obrolan kami mulai membahas tentang pengalaman, perempuan, sampai jalan-jalan. Yudha mulai membahas tentang backpacker yang menurut dia, backpacker itu adalah aktifitas jalan-jalan yang tujuannya ke gunung.

Waduh...... Sepertinya ada yang keliru.
Foto : Yudha

Arif Angga Yudha biasa di panggil yudha, dia masih menempuh pendidikan di bangku SMA kelas 2, suka memotret sama sepertiku, Yudha juga mempunyai keingintahuan tinggi dan suka jalan-jalan. Selama kami berjalan-jalan memang banyak di Gunung dan pantai. 

Tidak ada salahnya jika Yudha berfikiran seperti itu, sebab dalam pengalamanku di grub facebook rata-rata yang menjadi trend itu kegiatan mendaki gunung. 

Jika saya persentasekan bahasan yang berkembang di dalam grub Backpacker Indonesia. 40% untuk Gunung, 25% Pantai, 10% Kuliner, 5% Sosbud, 15% Sampah, 5% lain-lain. Saya teringat ketika saya pernah membaca beberapa artikel dan salah satu artikel itu menceritakan tentang awal mula backpacker.

Begini Yud awal mula Backpacker itu ada.

Berawal dari Giovanni Francesco Gemelli Careri (1651-1725)  dia adalah seorang kewarga negaraan Italia. Dia termasuk orang Eropa pertama untuk tur dunia menggunakan transportasi publik. Giovan yang bekerja di sebuah pengadilan merasa tidak puas dengan hidupnya dan dipicu oleh rasa ingin tahu yang besar. Giovan berhasrat menjelajahi dunia dalam rangka menemukan hal-hal baru. Giovanni Francesco Gemelli Careri memulai perjalanan dunia di tahun 1693, dengan kunjungan ke Mesir, Konstantinopel, dan Tanah Suci. Pada saat itu, rute ini Timur Tengah sudah menjadi bahan standar dari ekskursi apapun menjadi tanah asing, kenaikan yang nyaris tidak layak menulis tentang rumah. Namun, dari sana 'wisata' Italia akan mengambil jalan yang jarang dilalui.  

Setelah itu menyeberangi Armenia dan Persia, ia mengunjungi India Selatan dan masuk Cina, dimana para misionaris Yesuit diasumsikan bahwa seperti pengunjung Italia biasa bisa menjadi mata-mata bekerja untuk Paus (vatican). Ini kesalahpahaman kebetulan untuk Gemelli. Dia kemudian harus mengunjungi kaisar di Beijing, menghadiri perayaan Festival Lentera dan tur Tembok Besar. dan masih banyak lagi. Selama bertahun-tahun para sarjana dan ahli tidak menganggap perjalanan petualang Gemelli Careri yang otentik. Dengan waktu, bagaimanapun, kebenarannya terbukti, dan itu juga dipastikan bahwa dia mengumpulkan dokumen sejarah penting untuk mengetahui realitas yang eksotis secara lebih rinci dalam perjalanannya.

wikipedia.org
Kita loncat di era 1960-1970.

Pada akhir dasawarsa tahun 1960-an, Di Amerika Barat khususnya di kota San Francisco di negara bagian California, terjadi protes besar-besaran anak-anak muda melawan semua bentuk yang terorganisir (termasuk perjalanan wisata yang ditawarkan oleh hotel) dan mengharapkan terjadinya perubahan sosial dan politik. Gerakan protes ini membuahkan generasi Hippies.Gerakan yang dipelopori generasi muda itu meluas keluar lingkungan mereka, dan mereka menyampaikan protest sosial secara masal, mencakup antara lain gerakan untuk pembaharuan politik termasuk sebagai gerakan anti-perang Vietnam yang saat itu lagi ramai, hak-hak azasi manusia, gerakan mahasiswa, gerakan perempuan, gerakan hak kaum homoseksual, dan gerakan pelestarian lingkungan hidup.

Kaum hippie juga mempunya sebutan ‘Flower Power’ dan ‘Flower Generation’ karena dalam demo-demo yang mereka lakukan mereka biasa membawa bunga warna-warni sebagai lambang cinta dan damai.

Pada tahun 1970-an gerakan Hippies sebagai kelompok protes memudar, namun pengaruhnya sebagai budaya kontra meluas ke dalam banyak bidang dan menimbulkan gelombang revolusi di kalangan generasi muda Amerika maupun Eropah, dan juga mempengaruhi timbulnya gerakan lingkungan hidup dan demokrasi secara umum di Amerika Serikat. Era tahun 1970-an di USA ditandai kebangkitan ‘Rock Superstars’. Pada tahun 1980-an generasi Hiipies digantikan generasi baru yang kembali ingin mencari dunia mereka.

Generasi baru ini yang di sebut Backpacker.

Jika dilihat dari sejarah, Backpacker cenderung berjalan-jalan ke kota, memiliki misi cinta damai, cinta lingkungan, dan Sosial.

Cinta lingkungan bukan berarti kita harus mendaki gunung Yud, dan bukan berarti semua yang belum banyak orang tahu atau tempat baru harus kita explor. Begitu juga tentang mereka yang ikut agen perjalanan dengan harga murah.

Seorang backpacker lebih ke pendekatan pada penduduk sekitar, mengenal budaya atau adat dan memahami porsi-porsi seorang yang datang ke tempat yang baru dan kita di anggap asing. Begitu juga tentang lingkungan atau alam, seorang backpacker juga harus paham tempat dan porsinya, seperti tempat wisata, cagar alam, taman nasional, agar cinta terhadap lingkungan tetap tertanam. jadi tidak semua tempat itu adalah tempat wisata yang baik untuk dibuka untuk umum.

Namun aku bukanlah seorang Backpacker sejati Yud. Terkadang aku masih ikut trip yang sudah bertuliskan beberapa destinasi untuk sekali jalan dengan harga yang tercantum. Aku juga masih belajar bersosial, memahami hidup lewat pengalaman-pengalaman orang yang aku temui dalam perjalanan. Aku terkadang naik gunung juga ketika aku ingin untuk sekedar memanjakan mata dengan hijau hutan, meski tak sehijau dulu (katanya).

Terkadang aku menemui orang yang bangga telah menggagagi puncak-puncak gunung dan bercerita panjang lebar seperti dalam dalam pertunjukan wayang. 

Aku juga sempat menemui orang yang diam namun begitu banyak perjalanan yang sudah dia lakukan, membagi ilmu dan pengalaman.

Hingga hari ini aku masih belajar Yud, sama sepertimu.

Hal yang terpenting adalah bagaimana kita belajar menjadi lebih baik tanpa kita melihat dari mana dan apa bendera kita. Keterbukaan akan membuat kita menjadi lebih banyak tahu dan pengalaman orang lain sebagai panduan dan ingat, kita juga harus berbagi sesuai pengetahuan dan porsi kita.

JADI :
Explore duniamu untuk Tahu dan Menjadi Lebih Baik.
Jadilah wisatawan yang paham akan porsi.

14 Feb 2014 | By: vj lie

Dadi Wiryawan

Foto : Vj Lie
Namanya Dadi Wiryawan namun biasa di panggil Pakde oleh sahabat termasuk saya.  Saya mengenal Pakde baru beberapa bulan, berawal dari pertemanan lewat sosial media Face Book (FB) saya mulai mengerti Pakde dan cerita-certia dari teman teman sesama backpacker.

Pakde Dadi lahir di Yogyakarta 11 November 1957 dari pasangan Bpk.Soekarno dan Ibu.Sumijah. Pakde adalah anak pertama dari empat bersaudara, dua laki-laki dan dua perempuan. Adik Pakde bernama Saparti Septi Asih, Purwanti Warni  Asih, dan Budi Wiyono. Lahir dan besar di lingkuan  keluarga seniman tidak membuat pakde kemudian terjun dalam dunia seni. Pakde lebih memilih bersingguan dengan alam raya, fotografi, dan sejarah.

Saat ini Pakde berkunjung ke kota kecil Jember, Jawa Timur. Kunjungan pakde ke kota kecil ini sudah yang ke enam kalinya, Pakde  pada saya menceritakan tentang banyak hal begitu juga tentang pertama kalinya pakde tertarik untuk mencintai alam ini.

"Saya itu suka dengan alam saat duduk di bangku SMP Negeri 1 Wonosari, Gunung Kidul, DIY karena waktu itu saya ikut Pramuka, dan ikut menjadi anggota Jambore Penggalang yang pertama kali di Indonesia, waktu itu ada di Cibubur, Jakarta"

Keren...

"SMA saya tahun 1974, saya menempuh pendidikan di SMA Negeri 1 Wonosari, Gunung Kidul, DIY. Sempat kuliah di UGM empat semester tapi berakhir dengan Drop Out (DO)."

Aku tertawa ketika pakde mengatakan DO lantaran hobi suka jalan-jalannya.

Pakde memutuskan untuk bekerja setelah DO dengan memulai karier di Bank Rakyat Indonesia (BRI) Katamso, Yogyakarta dengan jabatan awal Teller Tabanas pada tahun 1981. Pakde saat masih bekerja mulai kembali kuliah, kali ini Pakde mengambil jurusan hukum. Siti Hardono Anis Setianingsih adalah wanita yang dapat memikat hati pakde, perkenalan berawal ketika pakde kuliah di UGM yang memutuskan untuk menikah di tanggal 31 Maret 1983. Pernikahan Pakde di karuniai dua anak laki-laki bernama Muhammad Juhrisal Stiawan dan anak kedua Yuriski Khusnul Yakin.

Anak pertama Pakde (wawan) sudah menikah dengan seorang gadis keturunan batak bernama Novi Lena Sari Siagian, dan sudah dikaruniai dua anak bernama Alviano Stiawan dan Abi Al Bukhori. Anak kedua Pakde saat ini sedang menempuh kuliah di Sospol Komunikasi UPN semester akhir.

Kemudian saya bertanya tentang Bude atau istri dari Pakde Dadi.

"Istri saya meningal usia 52 tahun di tanggal 15 Januari 2011 karena sakit kangker payudara, ini membuat saya mudah mengingatnya karena saya sebut Malari (mala petaka 15 Januari)."

Pembicaraan saya alihkan pada obrolan ringan untuk menbuat suasana lebih cair.

Pakde pensiun di usia 56 tahun dengan jabatan kahir sebagai Supervisor, pakde menikati pensiunnya dengan berjalan-jalan. Mengunjungi kota-kota yang ada di Indonesia untuk menyalurkan hobinya lebih dari itu adalah menjalin persaudaraan lewat hobinya. Kota yang membuat pakde kagum adalah Ternate dan Surabaya, sebab kedua kota ini memikat Pakde dari sisi sejarah, kerena Pakde juga termasuk orang yang suka dengan sejarah.

Diakhir obrolan saya dengan pakde, aku bertanya pada Pakde.
Apa yang mau ditunjukan oleh seorang Dadi Wiryawan dengan hobi jalan-jalannya?

"Bahwa hidup selaras dengan alam itu baik, ini saya tularkan pada anak-anak saya. Kebahagian tersendiri dari saya saat ini, ketika anak saya mulai mau saya ajak jalan-jalan, karena lewat jalan-jalan cara yang mudah membuat dia mulai mencintai alam." ucap pakde padaku di akhir obrolan kami.

Pakde Dadi memberiku banyak pelajaran hidup, diusianya yang mulai berjalan 57 tahun pakde masih melakukan aktifitas jalan-jalan ke hutan dan sesekali Pakde naik gunung.

Salut sama Pakde Dadi.