11 Nov 2014 | By: vj lie

Jambearum Yang Mulai Basah

Doc : PipiMerah
Setelah semalam diguyur hujan yang lumayan besar, siang hingga sore barusan hujan kembali datang lebih lebat dari semalam. Angin mengayunkan dahan-dahan pohon, hingga dedaunan rontok ke tanah.

Krumunan bambu juga tak mauh kalah bergoyang, beberapa ujungnya menyentuh tanah karena tak mampu menopang kawanannya yang sedang asik bergoyang diatas sana.

Hujan sudah mulai reda, dan meyisakan tanah basah. Ya. Bisa dibilang becek.

Emak basah kuyup sepulang dari berkeliling menjual tahu, beberapa tetangga mulai menyapu halamanya. Emak yang baru datang urun andil menyapu halaman samping, Bapak memotong bambu-bambu yang menyentuh tanah yang menyebabkan orang tak bisa lewat.

Beberapa orang lagi naik genteng untuk memperbaiki genteng yang tergeser oleh angin, ada juga yang membersihakan saluran air, namun ada yang memilih diam sembari makan gorengan dan kopi di teras rumahnya. Sedari ujung barat hingga timur aku lihat warga semua keluar dari rumah, menegur sapa dan mulai memanjatkan syukur atas air yang mulai turun.

Jambearum sudah panen jagung, dan ini kabar baik untuk petani yang akan memulai musim tanam padi. Kabar baik pula bagi penjual Jas hujan, Lem untuk rembesan air, hingga kabar baik untuk anak-anak yang sedari tadi sudah ramai berlarian bermain diderasnya hujan.

Teriakan gurau mareka seperti mengajak aku untuk bernostalgia di 17 tahun yang lalu.

Selamat Datang Hujan, Kami menyambutmu dengan senang. Seperti tanah yang tidak pernah lalai untuk menjadi rumah bagimu ketika kau turun ke bumi.
6 Nov 2014 | By: vj lie

Masa-Masa STM

Doc Pribadi

Hari ini sedang ingin bernostalgia. Akhir 2007 aku dan teman-teman sudah dihadapkan dengan les-les untuk persiapan Ujian Nasional (UN) sepulang sekolah.

Saat itu hari Jum'at, aku dan kawan yang masih ingin santai seturun sholat jum'at menyempatkan diri untuk main domino bersama dikost salah satu teman.Mendengar les urung dilaksanakan, maka main domino dilanjut sampai jam tiga sore. Permainan domino membutuhkan empat orang, permainan yang kami pilih dalah pembagian kartu hingga habis, jadi tidak ada istilah ngombe di permainan yang kami mainkan.

Hasil adalah hasil kesepakatan anatara delapan, orang yang kalah dicoret pakek angus dandang. Ketika itu Aku, Hafid (Mbah), Wedya, dan Singgih (Pratapsing) yang bermain. Sedangkan Pujianto (Jayus), syahrul, Somni (Gemol) dan Nur memilih menjadi profokator permainan.

Asik rasanya ketika dikenang, namun tidak saat angus yang diambil oleh lawan main mencoreng muka ganteng ini.

Jangan mencela dan esmosi dulu kawan saat aku mengucapkan kata ganteng pada diriku sendiri, karena aku sudah bilang di tulisan sebelumnya, kalau ganteng ku hanya bisa dilihat sama kedua orang tua ku...hehehehe

Ada yang bilang "masa SMA adalah masa paling indah"

Iya memang.
Tapi kami STM. Yang hanya ada Siti dan Nia berstatus siswi.

Dalam satu angkatan kami hanya dua orang itu saja yang berstatus siswi, selebihnya siswa semua.

Nelongsone koen mad.....!!! Iyo cak 

Tapi.....Untuk urusan diluar sekolah kami gak kehabisan cewek untuk dilihat.


Ya. Hanya dilihat.

Setiap hari kami hanya melihat cewek-cewek sekolah farmasi yang memakai setelah putih-putih sliweran didepan sekolah. Belum lagi saat pulang sekolah, jalur yang kami lewati menawarkan cewek-cewek SMEA Trunojoyo yang lagi-lagi untuk dilihat sembari mengendarai motor.

Yang beruntung akan dapet bonceng'er pastinya. Itu pun kalau kenal, kalau enggak ya sudah....... selesai.

Sayangnya aku lupa nama cewek paling cantik di SMEA Trunojoyo dari desa curah malang, menurut versi kami (Bukan kami satu STM).

Ok...... Sekarang ganti topik. 

Jangan bahas lagi masalah cewek, karena itu teramat ngenes untuk kami yang sekolah di STM. Walau dikenal kompak, namun kami monotone, seperti printer jadul yang hanya bisa cetak hitam putih.

Dalam urusan wali kelas, kelasku hanya dua kali ganti wali kelas.

Pertama, saat kelas satu. Orangnya penyabar banget, namanya Pak Wendy seorang guru teknik mesin perkakas, namun meninggalkan kami untuk menjadi dosen di UNEJ.

Kedua, Bu Sukati. Dengar nama Sukati (jangan rubah A menjadi E, karena akan menjadi tambah serem) saja serem rasanya. Beliau punya perawakan besar, raut wajahnya bulat dengan kulit coklat, matanya lebar, dan ada tahilalat di wajahnya.

Sebuah pilihan yang tepat untuk kelas kami yang bolosnya bergilir. Ya. Bergilir. Hampir setiap hari kelas kami tidak pernah nihil dalam masalah absain.

Bu Sukati menemani kami dari kelas dua dan tiga (Kami gak mengenal kelas belasan seperti sekarang), dibalik wajah dan nama yang seram, Bu Sukati punya hati yang lembut untuk saat-saat tertentu. Seperti halnya aku yang susah menyerap pelajaran yang Bu Sukati ajarkan, pelajaran yang menurut aku ruwet banget jika tidak menggunakan alat bantu kalkulator. Kebaikan Bu Sukati tidak pernah berhenti menuntun pelan-pelan kami sampai mengerti dan tetap mau meluangakan waktu untuk beberapa kali remidi demi kami memperbaiki nilai.

 Kalau masalah guru, kami di didik dengan banyak karakter.

  • Pak Mada : Waka Kesiswaan yang ditakuti seantero STM, namun juga dibenci karena perlakuannya yang kasar.
  • Pak Imam : Guru yang keluar dari akmil ini punya sifat tegas dan membangun.
  • Bu NN (Lupa Namanya) : Guru kimia ini punya hobi nyanyi, kadang kami nyayi dikelas kalau otak udah ruwet.
  • Bu Indah : Guru sabar yang ngajar bahasa inggris.
  • Bu Vita : Guru honorer yang mengajar di dua sekolah, benar-benar pekerja keras.
  • Bu NN (Lupa Namanya) : Mengajar wira usaha, meskipun sudah tua tapi tetap mengajari kami. wanita yang hebat
  • Pak Raden / Pak Super Mario (Nama Aslinya Lupa) : Bapak ini punya sopan santun yang T.O.P B.G.T
Lho kok wez panjang... hehehe

Ditutup ae lek ngunu, ben gak tambah dowo.

Sebagai penutup.Dalam foto ini adalah, dari kiri Mbah , tengah Wedya, Atas Vj Lie, kanan Pratapsing.



Alumni TPM2 STM Negeri Jember (Angkatan 2008).
4 Nov 2014 | By: vj lie

Dalam Sunyi Rowo Cangak

Doc Pribadi

Hari ini ketika orang-orang meneriakkan panas di status facebook, begitu pula yang aku rasa. Melihat bensin ditangki motor yang cukup untuk pergi dan pulang ke Rowo Cangak, aku mulai mempersiapkan diri untuk berangkat kesana.Hanya untuk sekedar membaca buku dalam rindang pepohonan dan ditemani semilir angin.

Waktu yang sama dengan aku yang lagi sumpek, sumpek tentang urusan pekerjaan dan bunyi bising dari kipas angin yang tanpa henti berputar diruang kotak berukuran 3 X 2,5 meter.Ya. Kamarku.
Aku berangkat dari rumah Jambearum jam setengah tiga sore, berbekal uang Rp.25.000 untuk keperluan yang tidak terduga dijalan.

Kamera, Buku, Tripod, dan Air sudah masuk dalam tas punggung merek Rei yang aku punya.

Langit lagi bagus hari ini, ada awan yang berjalan ditengah biru langit dan hijau tanaman di bumi, namun tidak semua hijau pastinya. Aku melewati jalanan berbatu kapur hasil tambang Gunung Sadeng, berjalan ditengah sawah yang banyak petani memaneh tanaman jagung miliknya. Adapula yang sedang berpanas-panasan mencetak bata dari tanah liat samping jalan dengan menutup wajahnya dengan kaos yang sudah usang.

Lalu melewati jembatan tua Sungai Bedadung. Jembatan ini terbagi atas dua bagian, bagian yang besar sebagai tempat kereta lori lewat, sedangkan jalan yang hanya selebar becak untuk pejalan kaki dan sepeda (motor). Aku yang melihat anak-anak dibawah jembatan menyempatkan diri untuk turun sembari memotret moment itu. Aku sudah lama tidak mengabadikan moment-moment kecil semenjak kamera yang aku punya aku gadaikan kesalah satu teman baik ku.

Saat aku melanjutkan perjalanan, aku bertemu dengan Pak Mantri.Beliau bukan juru suntik, namun Mantri memang nama yang diberikan orang tuanya. Pak Mantri ini langganan aku ketika aku masih menjadi sales makanan ringan, beliau ini memiliki toko kelontong yang sederhana, tapi sekarang lagi diperbesar.

Sesampai di Rowo Cangak aku menyempatkan untuk memotret beberapa hal terlebih dahulu, termasuk narsis seperti di foto. Kemudian aku merapikan pralatan dan menikmati suasana sembari membaca. Lima belas menit berlalu dengan sepi dan semilir angin, aku dikejutkan oleh suara berisik dari pungungan di depanku. Punggungan yang sudah masuk dalam kawasan Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) ini berada disebrang rawa, suara berisik itu berasal dari rusa betina dan beberapa monyet yang sedang kehausan, mereka turun kerawa untuk minum.

Punggungan didepan aku ini memang lagi gersang, dedaunan hijau yang biasanya menyelimuti bebatuan padas sedang berwarna coklat dan gugur.Satu jam tiga puluh menit aku duduk dipinggiran rawa, terasa begitu nyaman tidak terasa matahari mulai terbenam, sinarnya memberi warna jingga dilangit Rowo Cangak. Jalanan yang melewati ladang dan hutan sono ini membuat bergegas dan memilih untuk kembali kerumah agar tak terlalu malam sampai di rumah.

Hari adalah hari yang panas namun memberi rasa nyaman untuk tiga jam trakhir.



Salam dari kota kecil Jember.
3 Nov 2014 | By: vj lie

Mandi Di Bedadung

Doc Pribadi

Bedadung, begitu orang menamai sungai yang membelah Kabupaten Jember ini. Dimusim kemarau sungai ini jadi tempat andalan untuk bermain, mancing, pasang perangkap kepiting, angon wedus, dan renang bagi anak lengkong dan tamansari.

Biasanya ketika anak-anak sudah melepas wedus-wedusnya di pinggiran sungai yang berumput hijau mereka langsung menceburkan diri dialiran sungai bedadung yang kecil namun dalam ini. Aku yang lagi suntuk dirumah karena bingung dengan kerjaan, maka aku sempatkan jalan kesini, aku tertarik untuk turun saat aku melewati jembatan yang ketika itu liat anak-anak kecil baru saja melepaskan kambing-kambing miliknya. Tidak berfikir panjang lagi aku menitipkan motor merah kusam milikku kerumah penduduk dipinggiran sungai.
 
Sesampai aku disungai, ternyata dibawah sudah rame, ada dua laki-laki dan empat perempunan. Anak yang laki-laki langsung menceburkan dirinya ke sungai yang dalamnya sekitar 1,5-2 meter ini. Sedangkan anak perempuan main dipinggir dan memancing.

Entah dapat apa enggak tu entar. Lha wong sungainya diceburin gitu.... hehehe

Aliran Sungai Bedadung begitu bersih, sampai-sampai dialiran yang dangkal dasar sungai bisa terlihat, tapi itu hanya disaat musim kemarau.

Sungai Bedadung ini sebagai batas pemisah antara Dusun Lengkong dan Desa Taman Sari. Sungai yang hanya bisa dipakai main-main saat musim kemarau namun ketika musim hujan tiba Sungai Bedadung punya aliran yang deras dan keruh, dan aliran deras itu membawa sampah-sampah dari kota dan pinggiran kota melintas hingga ke laut.

Sampah-sampah tadi menyisakan bekas yang gak enak dilihat ketika kemaru tiba, ada plastik kresek, popok bayi, karung, dan masih banyak lagi yang nyantol di akar dan batang-batang bambu pinggiran sungai. Ketika kemarau, sungai yang punya lebar puluhan meter ini menyisakan aliran air yang lebar terbesarnya 3 meter saja.

Begitu banyak hutan bambu dipinggiran sungai menciptakan mata air yang begitu banyak, ditambah lagi Bedadung memiliki kedalaman yang lumayan, disini saja kedalam bedadung jika di ukur dari jalan sekitar 7 meter. Disamping itu hulu bedadung memang punya sumber mata air yang besar, Hal ini yang menyebabkan bedadung tidak pernah kekeringan.

 Kedepan semoga orang-orang bisa membuang sampah-sampah yang mereka produksi ketempat yang semestinya, bukan di Sungai atau di selokan.

Oh iya..... Sebagai penutup

Bedadung memiliki mitos yang asik bagi kamu yang suka dengan Jember, motosnya "Siapa yang mandi di Sungai Bedadung maka seseorang tersebut akan kembali datang ke Jember dan kemungkinan bisa menetap di Jember".



Salam hangat dari kota kecil Jember.
1 Nov 2014 | By: vj lie

Mbah dan Mbok

Mbah Sukur & Mbok Ni/Misni
Tadi sore aku berkesempatan memotret Mbah dan Mbok untuk keperluan keikut sertaan di BPJS, ini adalah foto Mbah Sukur dan Mbok Ni/Misni.

Mbah dan Mbok seorang pekerja keras yang dipertemukan di Desa Jambearum puluhan tahun silam. Aku juga belum tanya kisah senang dan dukanya saat-saat sebelum Emak lahir, yang jelas Mbah tidak mengenal yang namanya PDKT (Pendekatan) karena dulu Mbah dan Mbok dipertemukan lewat Perjodohan. Mbah seorang pengerajin Tahu, sedangkan Mbok seorang pengerajin Tempe. Desa Jambiarum sedari dulu tidak berubah untuk soal tahu dan tempe, rata-rata orang disini menekuni usaha rumahan ini. sampai-sampai ada yang pernah ngomong ke aku.

"Arek Jambearum masio sekolah dukur lek gak nemu kerjo, mentok-mentok'e dodolan tahu tempe"

Saat ini Mbah dan Mbok tetap setia menjadi pengerajin dan sekaligus menjualnya sendiri hasilnya. Madiri memang, cuman tidak untuk bahan bakau satu ini.

Ya. Kedelai.

Mbah dan Mbok masih ketergantungan dengan tersedianya kedelai dari negeri Paman Sam. Dua tahun kemarin ketika kedelai Amerika langka, Mbah dan Mbok sempat beberapa kali berhenti tidak berdagang dan mensiasati dengan memperkecil irisan ketika kedelai mahal. Mbah tidak mau ambil resiko dengan menggunakan kedelai dalam negeri, disamping susah mengembang saat perendaman, akibatnya Tahu yang dihasilkan tipis. belum lagi kendala soal pemberian cuka dan lain-lain yang aku tidak mengerti.

Memang ada jenis dalam negeri yang bagus seperti Kedelai Galunggung dan Kedelai Kretek tapi sekarang susah juga ditemukan, mungkin karena petani malas menanam kedelai.

Menjadi pengerajin Tahu dan Tempe ini menurun pada Emak yang tidak lain Ibu kandungku. Emak baru berhenti menjual Tahu dan Tempe saat usaha Bapak menunjukan hasil yang melimpah, ketika itu aku duduk di kelas 2 SD. Semenjak itu Emak berhenti dan lebih banyak dirumah, kadang kerumah Mbah untuk bantu-bantu.

Tehun 2009, Emak kembali bekerja menjadi penjual Tahu dan Tempe, berkeliling dari Jambearum hingga Meloko dan kadang Baguh, tergantung laris dan tidaknya dagangan yang Emak bawa.

Kembali Ke Mbah dan Mbok.

* Mbah adalah seoarang laki-laki yang Kuat, Keren, Ulet, Setia, Teliti, dan belum pernah aku lihat Mbah Marah pada siapapun alias penyabar dan sabar banget.

* Mbok Adalah Seorang perempuan yang Keren, Ulet, Pantang menyerah, Grusa-grusu, Suka Ngomel dan Cepat Naik Darah.

Perpaduan yang harmonis dari ciptaan Allah, karena jika seseorang punya sifat dan karakter yang sama persis dengan pasangannya berarti kosong dan kekurangan mereka tidak pernah terisi. Malah dengan adanya perbedaan justru akan membuat mereka saling melengkapi.

Selamat Mencinta Kawan.......