12 Mar 2014 | By: Unknown

Sosok Itu Bernama "Dulitan"

Hem.... Pagi yang basah.
 
Jambearum, begitu desaku di sebuat olah banyak orang, berada di perbatasan kecamatan Puger dan Balung. Pagi ini genangan air bekas hujan semalam masih terlihat, dan Emak membuat suara khas dari sapu korek yang Dia pakai. Pagi yang tak berubah sedikitpun dari hari kemarin. Nenek-nenek menggendong cucunya dengan alunan suara mengayun dan cerita-certia. Burung-burung kecil tak mau kalah, suaranya melengking dari rimbun dedaunan bambu.

Rerumputan kecil memberiku mengingatkan aku tentang cerita-cerita dulu, certia masa kecil tentang Dulitan. Ya. Dulitan begitu orang
di desaku menyebutnya, Dulitan di gambarkan sebagai orang yang membawa karung dan celurit di tangannya, dalam karung berisi kepala anak kecil untuk dijadikan tumbal ketika musim buka giling.  

Emak selalu tak lupa memberi tahuku untuk berhati-hati ketika main, tak jarang Emak melarangku bermain ketempat yang jauh dan saat sorop (senja) tiba.

"Le lek beduk balek, lek dolan ojok adoh-adoh wedi onok dulitan" begitu ketika emak mengingatkan aku saat hendak bermain.

Letak desa ku yang tidak begitu jauh dengan kebun tebu milik Pabrik Gula Semboro menjadikan cerita Dulitan begitu melekat dalam keseharianku. Tambah-tambah saat tanaman tebu mulai berbunga dan beberapa lahan siap untuk di tebang.

Dalam fikirku tak pernah menjadikan cerita ini sebagai lelucon, lelucon orang tua yang tak ingin anaknya bermain terlalu jauh.

"Mungkin karne aku masih kecil"

Seirama dengan kawanku bermain.
Ketika itu aku sedang asik bermain neker di bawah rimbun pohon bambu, seketiak akaget dan reflek berlari kencang hanya karena melihat orang yang mirip dengan Dulitan. Membawa karung yang tak penuh dan membawa celurit, namun yang aku lihat tak membawa aret (celurit) ditangannya. Aku tak sempat berfikir itu adalah seorang pemulung, cerita yang begitu melekat dalam benakku menjadikan aku langsung lari tunggang langgang ke arah rumah.

Hahahaha.... Ketakutan yang berlebihan.

Hingga sekarang aku belum tahu jelas tentang Dulitan yang di katakan Emak. Tentang sosok yang membawa celurit dan karung yang bertugas memotong kepala anak kecil untuk di jadikan tumbal pabrik gula ketika akan buka giling.

Entah itu benar terjadi atau hanya propaganda era penjajahan Belanda?

Ach...Yang jelas itu sudah membuat aku takut.

Sudah bertahun-tahun cerita tentang Dulitan tak lagi aku dengar. Nenek-Nenek yang menggendong cucunya tak menceritakan tentang itu lagi, anak-anak kecil bermain kemana dia suka hingga berjam-jam juga tak lagi di wanti-wanti kan adanya Dulitan.

Syukur, cerita itu hanya berhenti kepadaku, sehingga anak-anak kecil sekarang tak lagi merasa ketakutan dan terlalu curiga. Terlebih pada pemulung yang sedang mencari nafkah.

Tertawa kadang saat berkumpul dan mengenang masa lalu. Masa kecil yang menakutkan dan menjadi lelucon saat masa remaja.

Catatan :
Seorang teman mengatakan pernah bertemu dengan Dulitan ketika Dia masih kecil, sosoknya sama seperti yang di gambarkan Emak pada ku. Namun itu tak di desaku, tapi di Pasuruan jauh dari Jember tempat aku tinggal.

3 komentar:

Anonim mengatakan...

yang nulis hobby-nya ndulitan.
fotonya kok gak diupload suhuuuu??!!

Unknown mengatakan...

hahahaha.... Gak onok ilustrasi seng pas gawe tulisan iki :)

Asepsandro mengatakan...

aku yo ngunu cak, sering di wedeni dulitan nang wong tuoku, padahal yo sampe saiki urung tau ketemu.. hahaha...

Posting Komentar