Mengenal Benjeng Lewat Jejak Gresik
![]() |
| Foto : Harry Alfannani |
Kali ini saya ikut bergabung karena tertarik dengan tage line yang di usung, dan beberpa tulisan temen-temen Gresik yang saua baca. Saya saat ini memang tidak ikut dalam komunitas apapun tapi keinginan untuk bergabung dan mengenal Gresik sangatlah besar. Bagi saya Gresik menjadi rumah kedua setelah Jember, karena disini saya menemukan pasangan dan tempat tinggal untuk saat ini.
Pertama kali saya menghubungi Mas Irfan selaku koordinator acara, saya menghubungi Mas Irfan lewat pesan pendek dan sekaligus memperkenalkan diri. Mas Irfan mengarahkan saya untuk menuju titik kumpul di terminal Bunder jam 09:00 wib. Saat saya kesana masih sedikit yang kumpul, ada 4 orang terlihat diparkiran Mikrolet/MPU. Saya datang dengan Istri dan kawan dari ITS Surabaya.
Sekitar 100 orang yang ikut dalam acara ini, rata-rata didominasi oleh kalangan muda. Jejak Gresik kali ini membawa saya berkunjung ke Kecamatan Benjang,sesampai di balai kecamatan, kami berkumpul bersama dan dibuka acara dibuka oleh Mas Hadi dari Benjeng Pribumi. Pembukaan berlangsung tidak begitu lama, yang kemudian peserta diajak untuk menyusuri Benjeng hingga di Desa Balong Tunjung.
| Foto : Vj Lie |
Pak Suharto adalah kepala desa disini, beliau mengatakan pada tahun 1962 pendopo desa lah yang menjadi tempat untuk pemeluk Agama Kristen di desanya sebagai tempat kebaktian, hingga terbangunnya Gereja secara swadaya disisi timur desa.
Benjeng terkenal menjadi daerah rawan banjir di Kabupaten Gresik. Saya sedikit ngobrol dengan Has Hadi disela acara, dalam catatan Mas Hadi, Benjeng mulai mengalami banjir pada tahun 60an. Banjir disebabkan dari meluapnya Kali Lamong yang mengalami pendangkalan, beberapa titik kali lamong yang pinggirannya ditanami pepohonan yang tidak dijaga berakibat mempersempit sungai, hingga bangunan warga yang mengganggu jalannya air, sampai saat ini normalisasi Kali Lamong dan pembuatan waduk terus disuarakan.
Dimusim hujan memang membuat terendamnya sebagian wilayah, dimusim kemarau Benjang mengalami sulit air, warga memanfaatkan air telaga/tambak untuk memenuhi kebutuhan air, air sumur disini terasa asin dan keruh, sedangkan prusahaan penyedia air milik daerah tidak mencakup seluruh Kecamatan Benjeng.
Lahan Persawahan disini termasuk lahan tadah hujan, sehingga hanya saat hujan saja para petani berbondong-bondong menanam lahanya dengan tanaman padi, dan membiarkan tidak tertanami saat musim kemarau.
Peserta sengaja diajak melihat Benjeng dimusim kemarau, karena Mas Hadi beranggapan ini adalah potret Benjeng yang sebenarnya panas, dan gersang. Usulan normalisasi, dan pembuatan waduk memang sangat diperlukan untuk mencukupi keperluan air baku di daerah Gresik, dan mengontrol debit air saat musim hujan tiba.
| Foto : Vj Lie |
Saya kali kedua di Desa Jogodalu. Disini kami beristirahat sejenak disalah satu Madrasah, peserta disambut para karang taruna desa. Anggota karang taruna mempersiapakan makan, minum, dan buah sebagai menu penutup. Setelah istirahat selesai, Mas Irfan membawa kami untuk berkunjung ketempat pengrajin sarung tenun yang tak jauh dari lokasi istirahat. Kami dikenalkan dengan Pak Nursalim. Pak Nur adalah pemilik usaha sarung tenun Putra Nur.
Dalam perbincangan kami, beliau memulai usaha ini sejak tahun 90an. Berbekal pengalaman bekerja di sebuah prusahaan sarung terkemuka, Pak Nur memulai bisnis sarung tenun ini dengan modal awal 2 alat tenun.Saat ini Pak Nur sudah memiliki 30 karyawan yang bekerja dirumah masing-masing dengan dibekali 1 alat tenun setiap 1 karyawan. Hanya ada 2 alat tenun yang berada rumah Pak Nur. Sarung yang dikerjakan memiliki 2 jenis, jenis pertama sarung dengan bahan sutra, dan jenis kedua dengan bahan campuran sutra dan misris dengan komposisi 50 : 50.
| Foto : Vj Lie |
Namun yang sangat mencolok adalah jahitan, jika kita terbiasa melihat sarung dengan jahitan Vertikal itu bisa dipastikan sarung diproduksi dengan mesin modern, jika sarung dengan jahitan Horisontal maka itu dari pengarjin sarung tradisional, dan mungkin saja itu buatan tangan para karyawan Pak Nur.
Usaha ini berkembang pesat di tahun 2000 sampai 2010, belakangan ini usaha yang Pak Nur geluti tergolong menurun. Perkembangan teknologi mulai menggeser pengrajin sarung tenun tradisional, saat ini ada tiga merek yang sudah teken kontrak dengan Pak Nur. Alhamdulillah dengan tiga merek ini Pak Nur masih bisa memberi penghasilan dan mendapatkan keuntungan.
Setelah kunjungan dari kediaman pak Nur, saya memutuskan untuk menyudahi acara ini. Sebab saat itu saya masih ada urusan untuk ketemu dengan pengrajin kaos yang ada di Kecamatan Menganti. Saya berpamitan dengan Mas Irfan dan kawan-kawan penggiat acara ini.
Terimakasih, dan Semangat untuk teman-teman Jejak Gresik, karena acara ini sangat bermanfaat semoga ada kelanjutan untuk yang ke 3, 4, 5 dan seterusnya.
Salam
Kelas Inspirasi Gresik 3
![]() |
| Foto Pribadi |
Berawal dari ajakan istri, saya ikut dalam gerakan ini di Gresik, Ovi menginginkan kegiatan sosial yang dilakukan bareng-bareng. Tentu saya langsung setuju meski ada perdebatan kecil malam itu sebelum kemudian kami sepakat untuk ikut di Kelas Inspirasi Gresik.
Tim kami berjumlah sepuluh orang, terdiri dari 5 Fasilitator, 2 Dokumentator, dan 3 Inspirator.
Mas Arif yang saat itu juga menjadi Dokumentator berbaik hati menyewa mobil untuk kami bisa berangkat bersama di lokasi, mobil berangkat pukul 06:00 wib dari Masjid Agung Gresik. Saya, Ovi, Mbak Neser, Mas Adit, Mbak Mita, Mbak Zoya menumpang mobil yang dikemudikan oleh mas Arif. Sedangkan Mas Herman dan Mbak Intan menyusul kami dengan membawa mobil sendiri karena masih ada persiapan yang belum beres. Sedangkang mas Bagus membawa motor dan berangkat sendiri karena jarak dari sekolah lebih dekat. Kami semua berangkat dengan semangat Inspirasi, berharap kami menjadi tim inspirasi yang menghibur serta menjadi motivasi bagi adek-adek SDN Jogodalu.
Perjalanan kami tempuh kurang dari 1 jam. Jogodalu terletak di sisi barat masuk administrasi Kecamatan Benjeng, Kabupaten Gresik.
Kami datang dengan waktu yang pas, murid-murid belum sepenuhnya datang dan para guru juga belum semua datang, sehingga kami masih bisa beres-beres apa yang kami perlukan sebelum upacara bendera hari senin dilaksanakan. Saya berjalan dari kelas ke kelas untuk melihat adek-adek yang sedang melaksanakan piket harian. Ada yang sedang duduk-duduk bergerombol untuk berbincang-bincang, dan ada pula yang menatap saya dengan penuh tanda tanya saat saya memotret aktifitas mereka dipagi hari.
Mengingatkan saya pada beberapa tahun belakang saat saya masih duduk dikelas sekolah dasar, ini seperti nostalgia masa SD.
Bangunan sekolah dasar disini cukup baik, namun masih kekurangan kelas. Perpustakaan di pojok sekolah menjadi alternatif ruang kelas untuk kelas 3. Bangku sekolah juga masih kurang memadai disini, kelas 3 yang memanfaatkan ruang perpustakaan harus rela duduk di lantai kramik yang dingin saat pelajaran berlangsung, sebab hanya ada bangku belajar kecil yang disediakan oleh sekolah. Sedangkan kelas-kelas yang lain bangku yang sudah terlihat reot dan usang masih digunakan untuk belajar. Sepertinya Pihak sekolah masih berbenah untuk mengatasi ini, memperkokoh bangunan terlebih dahulu sebelum fasilitas yang lain dipenuhi.
![]() |
| Foto Pribadi |
Selesai upacara para fasilitator mengumpulkan adek-adek ke lapangan sekolah untuk melakukan perkenalan dengan cara yang unik dan membuat semua bibir mengembang dengan sumringah. Mbak Intan memperkenalkan kami secara urut satu persatu hingga kemudian membuat jargon.
Semua berteriak HU...HA.... ketika kami mengatakan SDN Jogodalu.
Suara itu lantang, memecah kesunyian disekitar sekolah yang begitu luas terbentang sawah dan tambak ikan milik warga. Terang saja lantang karena ini diteriakkan oleh semua murid dari kelas 1 hingga kelas 6.
Diakhir perkenalan mbak Intan membagi adek-adek menjadi tiga kelompok.
kelompok pertama kelas 1 dan 2 diisi oleh mas Adit yang berprofesi sebagai Arsitek
Kelompok kedua kelas 3 dan 4 diisi oleh mbak Neser yang berprofesi sebagai Peneliti
kelompok ketiga kelas 5 dan 6 diisi oleh mas Herman yang seorang Pengusaha
Semua mendapatkan porsi yang sama dan bergiliran dengan waktu selama 40 menit tatap muka.
![]() |
| Foto Pribadi |
Sedikit berdeda dengan kedua Inspirator, mas Herman yang berlatar belakang sebagai pengusaha muda memberikan motifasi sederhana yang bisa dicerna oleh usia dini, dan memberikan hiburan berupa joget bareng untuk mencairkan suasana.
kelompok ketiga adalah kelompok yang membuat kedua inspirator gemes serta jengkel, bagaimana tidak. Di kelompok ini para adek laki-laki begitu susah diajak mengikuti arahan Inspirator, semua berteriak "Pulang....Pulang...Pulang" mbak Neser yang sedang mendapat giliran memperlihatkan wajah kusutnya, entah apa yang sedang ia pikirkan, yang jelas dia tampak tak sanggup berbuat banyak untuk mengatasi suasana seperti itu.
Aku datang, dan adek-adek memberikan kesepakatan, jika di foto meraka baru mau untuk kembali mengikuti acara. Ya sudahlah, aku mengikuti kesepakatan itu dengan memotretnya hingga kemudian acara kembali berjalan, walau kemudian mereka kembali melakukan mogok.
Hehehehe..... Sepertinya ini adalah tantangan seorang Inspirator.
Saat terik matahari sudah bergeser tepat diatas kepala kami memberikan stiker dengan gambar berbagai profesi yang diberikan tempat untuk menuliskan nama serta cita-cita yang kemudian diterbangkan dengan balon helium yang sudah mas Bagus sediakan. Ya. Kami memberikan itu untuk adek-adek menuliskan cita-citanya, dengan harapan cita-cita itu terkabul menjadi kenyataan.
Seorang anak yang cukup bandel dikelompok tiga memberi inspirasi kepada kami, setidaknya ini menjadi sebuah renungan bagi kita semua. Mas Herman yang meminta menyebutkan apa cita-citanya dia dengan lantang ingin menjadi seorang petani. Ya. Petani. Dengan santai dia memberikan alasannya kenapa menjadi seorang petani, "Pengen jadi petani karena ingin punya beras yang banyak" Simpel memang, tapi ini cukup membuat kita dan saya khususnya bercermin dengan apa yang terjadi saat ini.
Ketika banyak petani menyekolahkan anak-anaknya hingga menempuh perguruan tinggi sampai rela menjual sebagian lahannya, dengan harapan agar anaknya menjadi seoarang pegawai negeri atau profesi lain selain petani. Kita tidak sadar jika generasi sebagai petani harus tumbuh berkembang dengan sukses dan mandiri, agar kita sebagai bangsa ageraris bisa swasembada pangan dan tidak lagi impor bahan pangan.
Menjadi seorang petani bukanlah hal yang buruk bagi negeri ini, justru kita butuh petani. Menyusutnya lahan pertanian yang beralih fungsi menjadi perumahan karena faktor banyaknya generasi kita tidak ingin menjalani profesi sebagai petani. Pemikiran yang polos tersebut menjadikan saya banyak berfikir dan ingin cepat-cepat menuliskan ini sebagai bahan untuk pembaca yang mungkin juga ikut menjadi Inspirator, kalau menjadi seorang petani adalah profesi yang harus didoroang kuat dan itu adalah profesi yang mulia.
Kami semua berangkat dengan semangat menginspirasi dan pulang dengan terinsirasi. Kegiatan ini begitu banyak memberikan kami manfaat, semoga kami juga bermanfaat bagi adek-adek SDN Jogodalu.
Diakhir acara kami berfoto bersama dan melepas balon dengan sorak kegembiraan, semoga semua sukses dan manjadi manusia-manusia yang bermanfaan bagi sekitar dan bangsa maupun negara.
#SalamInspirasi
*Semua foto yang dimuat dihalaman ini adalah dokumentasi kegiatan milik pribadi
Sakura Kuning Di Gresik
![]() |
| Foto : Vj Lie (Jl.Dr Soetomo Gresik) |
Pohon-pohon ini sedianya akan diganti dengan pohon jenis baru, sebagai pengganti Pohon Sono pemerintah setempat memilih Pohon Tabebuya Kuning, pohon ini memiliki nama latin Chrysotrica. Pohon tabebuya tergolong pohon yang tidak pelit untuk berbunga, pohon ini juga lagi ngehits lho. Dimusim panas atau kemarau seperti saat ini pohon tabebuya akan berbunga dan melepaskan daun-daunya sehingga terlihat hanya bunga yang menempati seluruh dahan, karena itu kebanyakan orang menyebutnya sakura kuning di negeri tropis.
| Foto : Vj Lie (Pohon Tabebuya di Benjeng) |
sebagian lagi masih proses pengerukan dan menumbangkan pohon.
Siang tadi saya mengendarai motor dari tempat kerja menuju lapak penjual koran, disamping penjual koran terlihat pohon yang sedang ditumbangkan oleh pekerja proyek menggunakan alat berat dan gergaji mesin. Pohon jenis Sono ini dipotong dengan ukuran satu meteran, Gresik sangat panas musim ini, namun para pekerja tetap melakukan pekerjaanya meski matahari menyengat dikulit.
Menarik bagi saya saat melihat sang pemotong kayu, Pemotong kayu tersebut masih anak-anak usia sekolah, Memakai kaos kuning dengan gergaji masin di tangan. Dia tampak piawai memainkan gergaji tersebut, suara yang dihasilkan begitu khas, kuda-kuda yang kokoh, gerakannya juga cekatan, dia juga sudah ahli dalam memprediksi dimana batang pohon ini akan jatuh setelah dia potong.
Ibu anak ini berada disampingnya, memerhatikan dan memberikan pelumas pada rantai pemotong saat diperlukan.
Hari ini adalah hari libur sekolah, anak-anak lain menyibukan diri dengan bermain dan bermalas-malasan, sedangkan dia belajar untuk bergelut dengan panas dan bising suara mesin gergaji. Belajar memang harus dini, begitu juga dengan profesi menjadi seorang pemotong kayu, Undang-undang memang mengatur tentang pekerja anak, tapi apa anak gak boleh ikut belajar bekerja?
Wah itu sebuah polemik panjang, dan saya tidak sedang membahas itu.
Kota Gresik memang sedang bersolek. Memotong pohon rindang akan berdampak pada bertambahnya suhu panas di Gresik, kota ini adalah kota industri banyak lalu lalang kendaraan yang menyebabkan polusi, begitu juga dengan polusi yang ditimbulkan oleh pabrik-pabrik yang sudah berdiri puluhan tahun di kota ini. Mengganti Pohon Sono dengan Pohon Tabebuya yang tidak cukup membuat teduh perlu didukung karena ini bertujuan untuk mempercantik Gresik dan bentuk tanggung jawab pemerintah daerah.
Usulan saya se, Ruang Terbuka Hijau (RTH) harus ditambah untuk mengatasi Polusi, RTH juga bermanfaat sebagai tempat berlibur dan ngicis bagi warga yang ingin santai dibawah pohon sembari menikmati kopi.
Jambearum Yang Mulai Basah
![]() |
| Doc : PipiMerah |
Krumunan bambu juga tak mauh kalah bergoyang, beberapa ujungnya menyentuh tanah karena tak mampu menopang kawanannya yang sedang asik bergoyang diatas sana.
Hujan sudah mulai reda, dan meyisakan tanah basah. Ya. Bisa dibilang becek.
Emak basah kuyup sepulang dari berkeliling menjual tahu, beberapa tetangga mulai menyapu halamanya. Emak yang baru datang urun andil menyapu halaman samping, Bapak memotong bambu-bambu yang menyentuh tanah yang menyebabkan orang tak bisa lewat.
Beberapa orang lagi naik genteng untuk memperbaiki genteng yang tergeser oleh angin, ada juga yang membersihakan saluran air, namun ada yang memilih diam sembari makan gorengan dan kopi di teras rumahnya. Sedari ujung barat hingga timur aku lihat warga semua keluar dari rumah, menegur sapa dan mulai memanjatkan syukur atas air yang mulai turun.
Jambearum sudah panen jagung, dan ini kabar baik untuk petani yang akan memulai musim tanam padi. Kabar baik pula bagi penjual Jas hujan, Lem untuk rembesan air, hingga kabar baik untuk anak-anak yang sedari tadi sudah ramai berlarian bermain diderasnya hujan.
Teriakan gurau mareka seperti mengajak aku untuk bernostalgia di 17 tahun yang lalu.
Selamat Datang Hujan, Kami menyambutmu dengan senang. Seperti tanah yang tidak pernah lalai untuk menjadi rumah bagimu ketika kau turun ke bumi.
Masa-Masa STM
![]() |
| Doc Pribadi |
Hari ini sedang ingin bernostalgia. Akhir 2007 aku dan teman-teman sudah dihadapkan dengan les-les untuk persiapan Ujian Nasional (UN) sepulang sekolah.
Saat itu hari Jum'at, aku dan kawan yang masih ingin santai seturun sholat jum'at menyempatkan diri untuk main domino bersama dikost salah satu teman.Mendengar les urung dilaksanakan, maka main domino dilanjut sampai jam tiga sore. Permainan domino membutuhkan empat orang, permainan yang kami pilih dalah pembagian kartu hingga habis, jadi tidak ada istilah ngombe di permainan yang kami mainkan.
Hasil adalah hasil kesepakatan anatara delapan, orang yang kalah dicoret pakek angus dandang. Ketika itu Aku, Hafid (Mbah), Wedya, dan Singgih (Pratapsing) yang bermain. Sedangkan Pujianto (Jayus), syahrul, Somni (Gemol) dan Nur memilih menjadi profokator permainan.
Asik rasanya ketika dikenang, namun tidak saat angus yang diambil oleh lawan main mencoreng muka ganteng ini.
Jangan mencela dan esmosi dulu kawan saat aku mengucapkan kata ganteng pada diriku sendiri, karena aku sudah bilang di tulisan sebelumnya, kalau ganteng ku hanya bisa dilihat sama kedua orang tua ku...hehehehe
Ada yang bilang "masa SMA adalah masa paling indah"
Iya memang.
Tapi kami STM. Yang hanya ada Siti dan Nia berstatus siswi.
Dalam satu angkatan kami hanya dua orang itu saja yang berstatus siswi, selebihnya siswa semua.
Nelongsone koen mad.....!!! Iyo cak
Tapi.....Untuk urusan diluar sekolah kami gak kehabisan cewek untuk dilihat.
Ya. Hanya dilihat.
Setiap hari kami hanya melihat cewek-cewek sekolah farmasi yang memakai setelah putih-putih sliweran didepan sekolah. Belum lagi saat pulang sekolah, jalur yang kami lewati menawarkan cewek-cewek SMEA Trunojoyo yang lagi-lagi untuk dilihat sembari mengendarai motor.
Yang beruntung akan dapet bonceng'er pastinya. Itu pun kalau kenal, kalau enggak ya sudah....... selesai.
Sayangnya aku lupa nama cewek paling cantik di SMEA Trunojoyo dari desa curah malang, menurut versi kami (Bukan kami satu STM).
Ok...... Sekarang ganti topik.
Jangan bahas lagi masalah cewek, karena itu teramat ngenes untuk kami yang sekolah di STM. Walau dikenal kompak, namun kami monotone, seperti printer jadul yang hanya bisa cetak hitam putih.
Dalam urusan wali kelas, kelasku hanya dua kali ganti wali kelas.
Pertama, saat kelas satu. Orangnya penyabar banget, namanya Pak Wendy seorang guru teknik mesin perkakas, namun meninggalkan kami untuk menjadi dosen di UNEJ.
Kedua, Bu Sukati. Dengar nama Sukati (jangan rubah A menjadi E, karena akan menjadi tambah serem) saja serem rasanya. Beliau punya perawakan besar, raut wajahnya bulat dengan kulit coklat, matanya lebar, dan ada tahilalat di wajahnya.
Sebuah pilihan yang tepat untuk kelas kami yang bolosnya bergilir. Ya. Bergilir. Hampir setiap hari kelas kami tidak pernah nihil dalam masalah absain.
Bu Sukati menemani kami dari kelas dua dan tiga (Kami gak mengenal kelas belasan seperti sekarang), dibalik wajah dan nama yang seram, Bu Sukati punya hati yang lembut untuk saat-saat tertentu. Seperti halnya aku yang susah menyerap pelajaran yang Bu Sukati ajarkan, pelajaran yang menurut aku ruwet banget jika tidak menggunakan alat bantu kalkulator. Kebaikan Bu Sukati tidak pernah berhenti menuntun pelan-pelan kami sampai mengerti dan tetap mau meluangakan waktu untuk beberapa kali remidi demi kami memperbaiki nilai.
Kalau masalah guru, kami di didik dengan banyak karakter.
- Pak Mada : Waka Kesiswaan yang ditakuti seantero STM, namun juga dibenci karena perlakuannya yang kasar.
- Pak Imam : Guru yang keluar dari akmil ini punya sifat tegas dan membangun.
- Bu NN (Lupa Namanya) : Guru kimia ini punya hobi nyanyi, kadang kami nyayi dikelas kalau otak udah ruwet.
- Bu Indah : Guru sabar yang ngajar bahasa inggris.
- Bu Vita : Guru honorer yang mengajar di dua sekolah, benar-benar pekerja keras.
- Bu NN (Lupa Namanya) : Mengajar wira usaha, meskipun sudah tua tapi tetap mengajari kami. wanita yang hebat
- Pak Raden / Pak Super Mario (Nama Aslinya Lupa) : Bapak ini punya sopan santun yang T.O.P B.G.T
Ditutup ae lek ngunu, ben gak tambah dowo.
Sebagai penutup.Dalam foto ini adalah, dari kiri Mbah , tengah Wedya, Atas Vj Lie, kanan Pratapsing.
Alumni TPM2 STM Negeri Jember (Angkatan 2008).
Dalam Sunyi Rowo Cangak
![]() |
| Doc Pribadi |
Hari ini ketika orang-orang meneriakkan panas di status facebook, begitu pula yang aku rasa. Melihat bensin ditangki motor yang cukup untuk pergi dan pulang ke Rowo Cangak, aku mulai mempersiapkan diri untuk berangkat kesana.Hanya untuk sekedar membaca buku dalam rindang pepohonan dan ditemani semilir angin.
Waktu yang sama dengan aku yang lagi sumpek, sumpek tentang urusan pekerjaan dan bunyi bising dari kipas angin yang tanpa henti berputar diruang kotak berukuran 3 X 2,5 meter.Ya. Kamarku.
Aku berangkat dari rumah Jambearum jam setengah tiga sore, berbekal uang Rp.25.000 untuk keperluan yang tidak terduga dijalan.
Kamera, Buku, Tripod, dan Air sudah masuk dalam tas punggung merek Rei yang aku punya.
Langit lagi bagus hari ini, ada awan yang berjalan ditengah biru langit dan hijau tanaman di bumi, namun tidak semua hijau pastinya. Aku melewati jalanan berbatu kapur hasil tambang Gunung Sadeng, berjalan ditengah sawah yang banyak petani memaneh tanaman jagung miliknya. Adapula yang sedang berpanas-panasan mencetak bata dari tanah liat samping jalan dengan menutup wajahnya dengan kaos yang sudah usang.
Lalu melewati jembatan tua Sungai Bedadung. Jembatan ini terbagi atas dua bagian, bagian yang besar sebagai tempat kereta lori lewat, sedangkan jalan yang hanya selebar becak untuk pejalan kaki dan sepeda (motor). Aku yang melihat anak-anak dibawah jembatan menyempatkan diri untuk turun sembari memotret moment itu. Aku sudah lama tidak mengabadikan moment-moment kecil semenjak kamera yang aku punya aku gadaikan kesalah satu teman baik ku.
Saat aku melanjutkan perjalanan, aku bertemu dengan Pak Mantri.Beliau bukan juru suntik, namun Mantri memang nama yang diberikan orang tuanya. Pak Mantri ini langganan aku ketika aku masih menjadi sales makanan ringan, beliau ini memiliki toko kelontong yang sederhana, tapi sekarang lagi diperbesar.
Sesampai di Rowo Cangak aku menyempatkan untuk memotret beberapa hal terlebih dahulu, termasuk narsis seperti di foto. Kemudian aku merapikan pralatan dan menikmati suasana sembari membaca. Lima belas menit berlalu dengan sepi dan semilir angin, aku dikejutkan oleh suara berisik dari pungungan di depanku. Punggungan yang sudah masuk dalam kawasan Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) ini berada disebrang rawa, suara berisik itu berasal dari rusa betina dan beberapa monyet yang sedang kehausan, mereka turun kerawa untuk minum.
Punggungan didepan aku ini memang lagi gersang, dedaunan hijau yang biasanya menyelimuti bebatuan padas sedang berwarna coklat dan gugur.Satu jam tiga puluh menit aku duduk dipinggiran rawa, terasa begitu nyaman tidak terasa matahari mulai terbenam, sinarnya memberi warna jingga dilangit Rowo Cangak. Jalanan yang melewati ladang dan hutan sono ini membuat bergegas dan memilih untuk kembali kerumah agar tak terlalu malam sampai di rumah.
Hari adalah hari yang panas namun memberi rasa nyaman untuk tiga jam trakhir.
Salam dari kota kecil Jember.
Mandi Di Bedadung
![]() |
| Doc Pribadi |
Bedadung, begitu orang menamai sungai yang membelah Kabupaten Jember ini. Dimusim kemarau sungai ini jadi tempat andalan untuk bermain, mancing, pasang perangkap kepiting, angon wedus, dan renang bagi anak lengkong dan tamansari.
Biasanya ketika anak-anak sudah melepas wedus-wedusnya di pinggiran sungai yang berumput hijau mereka langsung menceburkan diri dialiran sungai bedadung yang kecil namun dalam ini. Aku yang lagi suntuk dirumah karena bingung dengan kerjaan, maka aku sempatkan jalan kesini, aku tertarik untuk turun saat aku melewati jembatan yang ketika itu liat anak-anak kecil baru saja melepaskan kambing-kambing miliknya. Tidak berfikir panjang lagi aku menitipkan motor merah kusam milikku kerumah penduduk dipinggiran sungai.
Sesampai aku disungai, ternyata dibawah sudah rame, ada dua laki-laki dan empat perempunan. Anak yang laki-laki langsung menceburkan dirinya ke sungai yang dalamnya sekitar 1,5-2 meter ini. Sedangkan anak perempuan main dipinggir dan memancing.
Entah dapat apa enggak tu entar. Lha wong sungainya diceburin gitu.... hehehe
Aliran Sungai Bedadung begitu bersih, sampai-sampai dialiran yang dangkal dasar sungai bisa terlihat, tapi itu hanya disaat musim kemarau.
Sungai Bedadung ini sebagai batas pemisah antara Dusun Lengkong dan Desa Taman Sari. Sungai yang hanya bisa dipakai main-main saat musim kemarau namun ketika musim hujan tiba Sungai Bedadung punya aliran yang deras dan keruh, dan aliran deras itu membawa sampah-sampah dari kota dan pinggiran kota melintas hingga ke laut.
Sampah-sampah tadi menyisakan bekas yang gak enak dilihat ketika kemaru tiba, ada plastik kresek, popok bayi, karung, dan masih banyak lagi yang nyantol di akar dan batang-batang bambu pinggiran sungai. Ketika kemarau, sungai yang punya lebar puluhan meter ini menyisakan aliran air yang lebar terbesarnya 3 meter saja.
Begitu banyak hutan bambu dipinggiran sungai menciptakan mata air yang begitu banyak, ditambah lagi Bedadung memiliki kedalaman yang lumayan, disini saja kedalam bedadung jika di ukur dari jalan sekitar 7 meter. Disamping itu hulu bedadung memang punya sumber mata air yang besar, Hal ini yang menyebabkan bedadung tidak pernah kekeringan.
Kedepan semoga orang-orang bisa membuang sampah-sampah yang mereka produksi ketempat yang semestinya, bukan di Sungai atau di selokan.
Oh iya..... Sebagai penutup
Bedadung memiliki mitos yang asik bagi kamu yang suka dengan Jember, motosnya "Siapa yang mandi di Sungai Bedadung maka seseorang tersebut akan kembali datang ke Jember dan kemungkinan bisa menetap di Jember".
Salam hangat dari kota kecil Jember.
Mbah dan Mbok
![]() |
| Mbah Sukur & Mbok Ni/Misni |
Tadi sore aku berkesempatan memotret Mbah dan Mbok untuk
keperluan keikut sertaan di BPJS, ini adalah foto Mbah Sukur dan Mbok
Ni/Misni.
Mbah dan Mbok seorang pekerja
keras yang dipertemukan di Desa Jambearum puluhan tahun silam. Aku juga
belum tanya kisah senang dan dukanya saat-saat sebelum Emak lahir, yang
jelas Mbah tidak mengenal yang namanya PDKT (Pendekatan) karena dulu Mbah dan Mbok
dipertemukan lewat Perjodohan. Mbah seorang pengerajin Tahu, sedangkan Mbok seorang pengerajin Tempe.
Desa Jambiarum sedari dulu tidak berubah untuk soal tahu dan tempe,
rata-rata orang disini menekuni usaha rumahan ini. sampai-sampai ada
yang pernah ngomong ke aku.
"Arek Jambearum masio sekolah dukur lek gak nemu kerjo, mentok-mentok'e dodolan tahu tempe"
Saat ini Mbah dan Mbok tetap setia menjadi pengerajin dan sekaligus menjualnya sendiri hasilnya. Madiri memang, cuman tidak untuk bahan bakau satu ini.
Ya. Kedelai.
Mbah dan Mbok masih ketergantungan dengan tersedianya kedelai dari negeri Paman Sam. Dua tahun kemarin ketika kedelai Amerika langka, Mbah dan Mbok sempat beberapa kali berhenti tidak berdagang dan mensiasati dengan memperkecil irisan ketika kedelai mahal. Mbah tidak mau ambil resiko dengan menggunakan kedelai dalam negeri, disamping susah mengembang saat perendaman, akibatnya Tahu yang dihasilkan tipis. belum lagi kendala soal pemberian cuka dan lain-lain yang aku tidak mengerti.
Memang ada jenis dalam negeri yang bagus seperti Kedelai Galunggung dan Kedelai Kretek tapi sekarang susah juga ditemukan, mungkin karena petani malas menanam kedelai.
Menjadi pengerajin Tahu dan Tempe ini menurun pada Emak yang tidak lain Ibu kandungku. Emak baru berhenti menjual Tahu dan Tempe saat usaha Bapak menunjukan hasil yang melimpah, ketika itu aku duduk di kelas 2 SD. Semenjak itu Emak berhenti dan lebih banyak dirumah, kadang kerumah Mbah untuk bantu-bantu.
Tehun 2009, Emak kembali bekerja menjadi penjual Tahu dan Tempe, berkeliling dari Jambearum hingga Meloko dan kadang Baguh, tergantung laris dan tidaknya dagangan yang Emak bawa.
Kembali Ke Mbah dan Mbok.
* Mbah adalah seoarang laki-laki yang Kuat, Keren, Ulet, Setia, Teliti, dan belum pernah aku lihat Mbah Marah pada siapapun alias penyabar dan sabar banget.
* Mbok Adalah Seorang perempuan yang Keren, Ulet, Pantang menyerah, Grusa-grusu, Suka Ngomel dan Cepat Naik Darah.
Perpaduan yang harmonis dari ciptaan Allah, karena jika seseorang punya sifat dan karakter yang sama persis dengan pasangannya berarti kosong dan kekurangan mereka tidak pernah terisi. Malah dengan adanya perbedaan justru akan membuat mereka saling melengkapi.
Selamat Mencinta Kawan.......
Saat ini Mbah dan Mbok tetap setia menjadi pengerajin dan sekaligus menjualnya sendiri hasilnya. Madiri memang, cuman tidak untuk bahan bakau satu ini.
Ya. Kedelai.
Mbah dan Mbok masih ketergantungan dengan tersedianya kedelai dari negeri Paman Sam. Dua tahun kemarin ketika kedelai Amerika langka, Mbah dan Mbok sempat beberapa kali berhenti tidak berdagang dan mensiasati dengan memperkecil irisan ketika kedelai mahal. Mbah tidak mau ambil resiko dengan menggunakan kedelai dalam negeri, disamping susah mengembang saat perendaman, akibatnya Tahu yang dihasilkan tipis. belum lagi kendala soal pemberian cuka dan lain-lain yang aku tidak mengerti.
Memang ada jenis dalam negeri yang bagus seperti Kedelai Galunggung dan Kedelai Kretek tapi sekarang susah juga ditemukan, mungkin karena petani malas menanam kedelai.
Menjadi pengerajin Tahu dan Tempe ini menurun pada Emak yang tidak lain Ibu kandungku. Emak baru berhenti menjual Tahu dan Tempe saat usaha Bapak menunjukan hasil yang melimpah, ketika itu aku duduk di kelas 2 SD. Semenjak itu Emak berhenti dan lebih banyak dirumah, kadang kerumah Mbah untuk bantu-bantu.
Tehun 2009, Emak kembali bekerja menjadi penjual Tahu dan Tempe, berkeliling dari Jambearum hingga Meloko dan kadang Baguh, tergantung laris dan tidaknya dagangan yang Emak bawa.
Kembali Ke Mbah dan Mbok.
* Mbah adalah seoarang laki-laki yang Kuat, Keren, Ulet, Setia, Teliti, dan belum pernah aku lihat Mbah Marah pada siapapun alias penyabar dan sabar banget.
* Mbok Adalah Seorang perempuan yang Keren, Ulet, Pantang menyerah, Grusa-grusu, Suka Ngomel dan Cepat Naik Darah.
Perpaduan yang harmonis dari ciptaan Allah, karena jika seseorang punya sifat dan karakter yang sama persis dengan pasangannya berarti kosong dan kekurangan mereka tidak pernah terisi. Malah dengan adanya perbedaan justru akan membuat mereka saling melengkapi.
Selamat Mencinta Kawan.......
Melawan Lupa
![]() |
| Perjalanan Vj dan Ovi |
" haii bee, ,, " isi pesanmu pertama kali tanggal 02/08/2013 19:55
" Yuhu " saut aku hingga berkelanjutan.
Keinginan kamu untuk mendaki G.Ijen mengantarkan kita saling bertemu di awal bulan September, dengan prasaan senang aku mengantarmu ke Ijen yang sebelumnya kamu aku jemput di Terminal Surabaya.
Hari-hari berlangsung dengan pesan dan telepon yang kita lakukan, sampai kita bertemu lagi di Jember bulan Oktober untuk menikmati Durian. Ya. Kebetulan pas itu musim durian di Jember.
November yang sedih bagiku. Aku kehilangan adik kandungku Alm.Amanu, Kamu ketika itu datang dengan membawa kado senyuman dari mata cantik di balik kaca mata itu agar aku juga tersenyum.
Dingin pegunungan Ijen memanggil untuk kita untuk bertemu kembali dan menikmati suasana dingin di bulan Desember. Tawa ceria anak kecil Dusun Curah Macan menghias di awal Januari 2014, aku masih ingat ketika malam itu kamu takut akan jalur yang kita lalui dengan lampu 12volt dari dari motor merahku, gelap dan kabut seperti lorong yang tanpa ujung. Pelukan erat dan hanya diam yang kamu tunjukan padaku saat itu.
Februari untuk pertama kalinya aku keliling Kota Gresik bersamamu, kamu menunjukan banyak hal saat kita berkeliling dengan motor matik yang kau pinjam dari adik pertamamu. Disiang yang panas kita makan di lapak milik Bang Aji, samping sekolah kamu dulu. Kita bernostalgia kecil disana, kamu menceritakan tentang menu dan cara kamu pesan makanan dari balik pagar sekolah.
Maret di Teluk Ijo yang gerimis. Yang aku ingat ketika jalan licin dan sempit, saat itu kamu terus ngecepres sepanjang jalan dari awal memasuki jalan setapak di hutan Taman Nasional Meru Betiri hingga sampai di Teluk Ijo, dan kembali dengan menggunakan perahu hingga Rajek Wesi.
April kita bermalam minggu di Kedai Lenquas, depan UNMUH Jember. Ayam bakar adalah menu yang kamu suka dikedai dengan tema koboi itu, daging yang empuk dan bumbu kecap manis yang melumuri ayam bakar membuat kamu menjadikan menu ini menu favorit.
"Ayo kapan kesana lagi? "
Bulan Mei dihari yang kamu sambut dengan senyuman. Ya. Saat tanggal kelahiran kamu di awal bulan Mei tiba, ucap syukur penuh kebahagiaan kamu tuangkan dengan makan bersama keluarga di Rumah Makan Apung, Gresik.
Saat itu adalah saat pertama kali aku dikenalkan dengan kedua orang tua kamu. Setelan kemeja putih dengan garis kecil dan celana jeans aku bertatap muka dengan salam perkenalan pada kedua orang tua kamu.
Dedekan? Iya. itu pasti ada namun perlahan pudar dengan suasana akrab di meja makan.
Sunset indah di bulan Juni. Payangan menyugukan sunset yang indah, saat itu ketika kamu berada di puncak bukit dengan belai angin laut yang cukup kencang. hari yang melelahkan sedari jam 3 sore kita keliling Dusun Payangan hingga terbenamnya mata hari.
Pameran foto, sahur dan buka puasa di rumahmu. Bulan Juli aku diperbolehkan berkunjung kerumah kamu, kita melakukan ibadah puasa bersama, sekaligus berkeliling kota kelahiran kamu. Jalan-jalan di pasar malam dengan naik dermolen (keranjang berputar), kamu terlihat takut banget saat perlahan keranjang yang kita tumpangi berputar dengan alat bantu disel waktu itu. Sehabis menaiki demolen kita melihat-lihat dan berfoto di pameran foto milik komunitas fotografer yang berada dalam payung industri petrokimia.
Juli memang bulan yang essip.
Sudah memasuki bulan Agustus, minggu depan aku datang lagi ke Gresik dengan keluarga untuk proses pertunangan kita. Semoga lancar dan di ridhoi Allah. Amin....
Penutup :
Saat pertunangan nanti genap 1 tahun 8 hari kita berproses, yang aku harap hubungan kita tetap berjalan dengan lancar dan tanpa pertengkaran besar, dan pertengkaran kecil hanya menjadi bumbu untuk hubungan kita lebih kuat.
Amin...Amin ya Robbal Alamin
Oh iya.... satu lagi.
Semoga hari kamu bahagia dengan senyum tanpa ada jerawat di wajah yang sering membuat kamu jengkel.
Masjid Baitul Mukmin Gumelar
![]() |
| Doc. Vj Lie |
Sewaktu aku masih duduk di sekolah menengah kejuruan (SMK), masjid ini direnovasi dengan biaya yang di kumpulkan lewat amal jariah penduduk sekitar, jama'ah dan pengguna jalan yang melintas di jalan depan masjid. Amal yang dari receh di kumpulkan hingga berwujud masjid yang indah dan megah.
Setidaknya kita sudah bisa belajar dari ini, bahwa amalan kita akan berwujud megah nantinya ketika yang kecil-kecil kita kumpulkan dari sekarang.
Amanu Pulang
![]() |
| Bapak, Emak, Amanu |
"Amanu golek'i awaktu tok maolai sore mau" Kata emak
![]() |
| Amanu di ruang depan |
Amanu dilahirkan 17 Agustus 1993, dia dilahirkan tak seperti anak yang lainnya. Ya. Amanu cacat fisik dan keterbelakangan dia juga mempunya Step. pernah kutulikan sini Adik ku sayang
Masih aku ingat ketika itu.
Amanu tidak bisa berjalan, dia ngesot. Kakinya lumpuh tak kuat menopang badan dan kepalanya yang membesar. Namun hari raya idulfitri Allah memberi kado indah lewat kejadian yang amanu alami. Amanu jatuh dan kejang-kejang setelah aku tabrak saat aku asik bermain dengan temanku.
Amanu dilarikan kerumah sakit RSUD Balung ketika itu, menjalani rawat inap yang tak sebentar. Amanu kecil diberi selang yang diletakkan di tenggorokannya dan di sedot dengan alat hingga mengeluarkan lendir-lendir. Sejak kejadian itu Amanu punya perlakuan yang lebih dan bisa dibilang sangat lebih.
Setelah kejadian itu Amanu bisa berjalan, semua juga tak lepas dari pijitan Mbok Yem (Almarhumah) setiap hari. Kado yang indah diberikan Allah pada keluarga kami, sehingga Amanu tak lagi ngesot.
Amanu juga punya kabiasaan keliling kampung setiap sore, di bonceng Mbak naik sepeda motor.
Kadang juga aku atau Bapak, tergantung siapa yang sedang tak sibuk waktu itu. Rutinitas baru setelah Amanu bisa berjalan.
Sudah lama Amanu tak lagi keliling kampung sore hari sejang mbak menikah.
Amanu adalah adik yang aku sayang, dia meski tak sempurna dalam fisik namun punya hati yang lebih baik dari yang sempurna fisiknya. Perhatiaanya terhadap Emak begitu besar, subuh amanu sudah bangun untuk membangunkan Emak untuk bersiap kepasar. Itu rutinitas setiap hari sejak Bapak jatuh sakit sehingga usahanya bangkrut dan barang berharga habis di jual untuk kesembuhan Bapak. Kemudian Ibu yang bekerja menggantikan bapak mencari nafkah dengan berjualan keliling.
Aku sempat di telepon sama sama kakak, ketika aku masih bekerja di karawang.
"Amanu kate ngomong" kata kakak
"Opo Nu?"
"Kapan sampean balik Cak, gak kangen ta karo aku?"
"yo kangen rek.... emben cacak balik Nu"
Kegembiraan terdengar dari tawa girangnya ketika mendengarkan aku mengatakan akan pulang tak lama lagi.
Mendengar aku berhenti kerja, Amanu tak lagi memperbolehkan aku pergi jauh merantau lagi.
"Nu... Cacak'e budal (berangkat kerja jauh) maneh oleh?"
"Wez gak usah cak, meneng kene ae wez. Mak'e (Ibu) sopo seng jogo engkok?
Sedari itu aku ingin tinggal dan menghabiskan waktu di Jember, sesuai keinginan manu. Namun aku masih ingin jalan-jalan sebelum kembali bekerja untuk saat itu. Waktuku sering aku pakai buat jalan jalan selama setahun terakhir, dan beberapa hari keluar rumah.
Amanu selalu geridu ketika aku tak pulang kerumah beberapa hari, itu yang aku tahu dari obrolan Emak.
Termasuk malam itu, saat aku pulang dari Panangaon sampai Dia terlelap.
Pagi Hari 13 November 2013
Selang beberapa lama aku mendengar tubuh bongsornya jatuh lantai tanah ruang belakang.
Emak menjerit, dan keributan mulai terjadi. Beberapa tetangga datang dan mengangkat tubuh bongsor Amanu ke kasur yang tak jauh dari tempatnya jatuh.
Step Amanu kambuh, penyakit ini Amanu bawa sepanjang umurnya.
Tubuhnya kejang, dan mengeluarkan suara seperti orang ngorok.
Wajah emak Pucat.
Emak memijat kaki Amanu bagitu juga dengan bapak. Bapak memijat tangan-tangan amanu dengan perlahan.
Doa kesembuhan di panjatkan, situasi yang panik setiap penyakit ini kambuh.
Beberapa jam Amanu masih kejang-kejang, aku kemudian yang menggantikan Emak memijat kaki-kaki Amanu.
Menjelang siang tukang pijit datang dan Amanu mulai menampakkan kesembuhan. Dia tak lagi kejang-kejang namun tetap mengeluarkan suara seperti orang ngorok.
Tak ada pikiran untuk membawanya kerumah sakit ketika itu, ini hal yang sudah terulang berkali-kali sehingga kami menganggap ini akan sembuh setelah Amanu tak lagi kejang-kejang.
Seharian Manu tak makan dan minum, matanya yang punya tonjolan daging mengempes dan tubuhnya lemas. Aku perlahan masuk ke kamar dan menangis meminta pada sang Maha Agung (Allah) untuk memberinya kesembuhan.
Jam 21:00 wib
Aku mendampingi Amanu di ruang belakang, Emak saat itu tidur di kursi panjang tak jauh dari Amanu. Aku memeluknya, tubunya masih hangat, matanya mulai mengering kehabisan air mata yang seharian iya keluarkan. Sesekali aku kembali kekamarku dan membuka laptop, mencari info-info seputar apa yang amanu derita dan obatnya.
Jam 23:00 wib
Amanu mencuri perhatianku dengan suara-suara seperti ketukan. Dia memukul tembok berkali-kali untuk memanggil sebab dia tak lagi bisa mengeluarkan suara. Aku kembali mendekat dan memeluknya, menenangkan dia.
Amanu seperti orang yang bingung, pandangannya mengarah kesegalah arah dengan capat.
"Opo Le, Cacak nangkene"
"Wez ndang waras......"
Setiap aku beranjak meninggakalannya, Amanu berkali-kali itu juga memukulkan tangnnya ke tembok.
"Ini isyarat buatku, aku tak akan meninggalkan dia lagi" dalam batinku.
Aku mulai mengajaknya ngomong meski aku tahu dia tak bisa menjawabnya, menceritakan kenginginan kesembuhan buatnya. Sebab baru kali ini Amanu step dari pagi hingga malam tak juga sembuh. Suara Amanu mulai aku dengar ketika tengah malam, entah jam berapa waktu itu. sepertinya lewat dari jam 12 malam.
"aaaa...aaaa...aaaa" itu saja yang aku dengar, dia seperti memanggil ku berulang-ulang.
"Opo le? ngombe banyu gulo ta?" Aku lantas membangunkan Emak, menintanya membuat air gula.
"Manu wez ngomong Mak, gawekno wedang golo. kepingin ngombe iki mulai mau wetenge gak keisi" kataku pada Emak
Aku membangunkan dia, membuatnya berposisi duduk dengan aku sebagai sandarannya. Pelukan ku tak lepas meski aku meminumkan air gula ini sendok demi sendok.
Emak kebelakang, membuatkan bubur untuk Amanu.
"Waras yo le......." suara Emak yang ku dengar dari dapur dengan nada sedih.
Belum dingin bubur yang dibuat Emak, baru empat sendok air manis ini dia telan, Amanu yang aku peluk memegang tanganku sebelah kanan.
Tangan sebelah kiriku merasakan detak jantungnya yang semakin pelan berdetak beberapa menit terakhir hingga berhenti.
Hal yang tak bisa aku lupakan, Adik yang aku sayang meninggal di pelukanku tepat pukul 02:00 14/11/2013.
Aku mencoba membangunkannya, mengajaknya ngomong sembari memeluk erat tubuhnya. Ini seperti mimpi.
"Nu... ojok guyon Nu"
Emak menangis, piring bubur yang ditangannya diletakkan sembarang di ujung tempat tidur.
Aku menekan dadanya beberapa kali, sempat batuk namun itu hanya batuk yang tak membuatnya sadar dan membuat jantungnya berdetak kembali.
Beberapa hari kemarin aku sempat di peluknya dengan erat, Dia menunjukan bau harum rambutnya yang baru saja memakai shampo, memintaku tak pergi kerja jauh lagi. akhir pelukan Dia bertanya padaku.
"Sampean sak'aken gak Cak karo aku?"
"Yo sa'aken le...." sambil aku memelunya kembali.
Tuhan punya rencana lain untumu Nu, 20 tahun sudah waktu yang lama buat km ada dalam tubuh yang tak sempurna. Tuhan tak ingin melihatmu semakin lama menahan sakit dari kejang-kejangmu, sakit hatimu yang sering di ejek bocah yang jauh lebih muda darimu sampai kau marah. Aku juga tak ingin melihatmu menangis lagi dengan ejekan-ejekan yang membuat kuping panas itu, melihatmu iri karena tak bisa bermain selayaknya anak seusiamu.
Aku tahu km begitu baik hati meski mereka kerap membuatmu meradang.
Pesanmu akan Cak Lihin pegang, semoga Tuhan memberimu tempat yang indah dan rupa yang tampan. Disini Cak Lihin hanya bisa mengirimmu doa, menjaga Emak seperti yang kau pinta.
Selamat Jalan Adik ku..... Selamat Jalan.
Lan Jalan ke Puncak B29 Argosari, Lumajang.
![]() |
| Bukit sebelum Argosari (Doc Pribadi) |
Pagi masih basah, alarem ku berdering kencang pada pukul 06:00 wib. Mengingatkan aku untuk perjalanan ke Puncak B29 Agrosari, Lumajang.
"Ach... dering yang membuyarkan mimpi manisku kali ini"
Rasanya mata ini malas untuk membuka kelopaknya, namun aku sudah terbayang tentang sebuah puncak dan nanti aku berada di atas awan. Sebuah bayangan yang indah.
Aku seorang yang suka jalan-jalan, kali ini aku jalan-jalan ketempat yang belum aku kunjungi. Namanya memang mirip sabun, namun aku bukan sedang membahas sabun colek B29. Puncak B29 sendiri sebelumnya hanya aku kenal lewat beberapa artikel temen-temen dari lumajang, dan beberapa foto dari mesin pencari.
Foto Puncak B29 yang cantik menjadikan aku bersama teman-teman ingin mengunjunginya.
"Hallo...Aku mau otw ke senduro sekarang" Sms ku ke Mas Daniel.
Pagi itu Mas Daniel sudah berangkat terlebih dahulu ke Senduro, Lumajang. Dia menunggu aku, Yudha, dan Eko di Polsek Senduro.
"Ach... dering yang membuyarkan mimpi manisku kali ini"
Rasanya mata ini malas untuk membuka kelopaknya, namun aku sudah terbayang tentang sebuah puncak dan nanti aku berada di atas awan. Sebuah bayangan yang indah.
Aku seorang yang suka jalan-jalan, kali ini aku jalan-jalan ketempat yang belum aku kunjungi. Namanya memang mirip sabun, namun aku bukan sedang membahas sabun colek B29. Puncak B29 sendiri sebelumnya hanya aku kenal lewat beberapa artikel temen-temen dari lumajang, dan beberapa foto dari mesin pencari.
Foto Puncak B29 yang cantik menjadikan aku bersama teman-teman ingin mengunjunginya.
"Hallo...Aku mau otw ke senduro sekarang" Sms ku ke Mas Daniel.
Pagi itu Mas Daniel sudah berangkat terlebih dahulu ke Senduro, Lumajang. Dia menunggu aku, Yudha, dan Eko di Polsek Senduro.
Titik B29 berada di desa Argosari, Senduro, Lumajang. Kota yang berada disisi barat kota tempat aku tinggal (Jember).
Hari ini aku sengaja menumpang motor Yudha, sebab motor merahku lagi malas pergi ketempat yang tinggi. Maklum rantainya sudah tua.
Pemandangan sepanjang jalan dengan langit biru, sedikit menjadikan rasa lapar ini berkurang. Walau ketika sampai Kecamatan Senduro aku bingung cari tempat makan. Untung Mas Daniel punya langganan warung bebas di Senduro.
"Luwe aku mas, mangan nang endi iki?" Tanyaku ke Mas Daniel
"Mangan nang warung bebas kunu disek ae"
Setidaknya jawaban Mas Daniel memberi nafas lega buatku, walau belum tahu juga tutup atau tidak.
Nasi, Sayur Kangkung, dan Telur mengisi perutku yang dari berangkat tadi kosong, dan Es Teh Manis menjadi teman penutup.
Dari Senduro perjalanan kami menuju Puncak B29 masih lumayan jauh. cukup buat bokong ini terasa panas karena terlalu lama duduk.
Pikiran bokong panas mulai teralihkan ketika memasuki perbukitan lereng Gunung Semeru, samping kanan kiri jalan yang kami lalui begitu terlihat hijau dan puncak semeru yang terbalut awan putih di bawahnya, seakan awan itu menjadi cincin manis di puncak Mahameru.
Nasi, Sayur Kangkung, dan Telur mengisi perutku yang dari berangkat tadi kosong, dan Es Teh Manis menjadi teman penutup.
Dari Senduro perjalanan kami menuju Puncak B29 masih lumayan jauh. cukup buat bokong ini terasa panas karena terlalu lama duduk.
Pikiran bokong panas mulai teralihkan ketika memasuki perbukitan lereng Gunung Semeru, samping kanan kiri jalan yang kami lalui begitu terlihat hijau dan puncak semeru yang terbalut awan putih di bawahnya, seakan awan itu menjadi cincin manis di puncak Mahameru.
![]() |
| Jalan menuju B29 (Doc pribadi) |
Sepanjang perjalanan yang kami lihat hanya keindahan alam yang terhampar luas, hijau hutan, langit biru dengan kapas-kapas awan putihnya, tidak ada rumah atau pos-pos penjagaan.
Setengah jam perjalanan, kami sampai di perkampungan karena tak tahu arah kami menggunakan GPS (Gunakan Penduduk Sekitar) untuk bertanya, kali ini kami bertanya sambil ngopi dan makan bakso.
"Masih lurus terus mas, ikuti jalan" Jawab tukang bakso yang menunjuk arah Puncak B29
Jalan yang berliku kami lalui dengan pelan, rasa penasan akan puncak terus ada dalam hati. Ladang-ladang petani kentang menjadi penghias bukit yang terlihat kotak-kotak.
"Selamat Datang Dikawasan Wisata Desa Agrosari"
Akhirnya sampai juga.
Meski masih butuh sekitar lima kilo meteran buat sampai puncak. Setidaknya kami gak nyasar kali ini.
Hawa dingin mulai menembus kulit luarku, jaket tebal ini seakan basah. Basah hasil hempasan kabut tipis yang terus menyerang. Tanah yang kali ini aku pijak berada di ketinggian 2900 mdpl (Meter Dari Permukaan Laut). Tak terlihat apa-apa selain putih kabut yang kami lihat. Seakan kecewa yang terus ada dalam benak ketika yang terjadi tak seperti yang kubayangan.
Pasir berbisik, Gunung Bromo, Gunung Batok....Ach semuanya buyar karena kabut yang begitu tebal menutupi pandanganku.
"Masih lurus terus mas, ikuti jalan" Jawab tukang bakso yang menunjuk arah Puncak B29
Jalan yang berliku kami lalui dengan pelan, rasa penasan akan puncak terus ada dalam hati. Ladang-ladang petani kentang menjadi penghias bukit yang terlihat kotak-kotak.
"Selamat Datang Dikawasan Wisata Desa Agrosari"
Akhirnya sampai juga.
Meski masih butuh sekitar lima kilo meteran buat sampai puncak. Setidaknya kami gak nyasar kali ini.
Hawa dingin mulai menembus kulit luarku, jaket tebal ini seakan basah. Basah hasil hempasan kabut tipis yang terus menyerang. Tanah yang kali ini aku pijak berada di ketinggian 2900 mdpl (Meter Dari Permukaan Laut). Tak terlihat apa-apa selain putih kabut yang kami lihat. Seakan kecewa yang terus ada dalam benak ketika yang terjadi tak seperti yang kubayangan.
Pasir berbisik, Gunung Bromo, Gunung Batok....Ach semuanya buyar karena kabut yang begitu tebal menutupi pandanganku.
Puncak B29 Agrosari, Senduro, Lumajang adalah tempat yang masih masuk dalam peta kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Tempat ini terletak di ketinggian 2900mdpl, jadi tak heran disaat-saat tertentu kabut begitu tebal yang menghalangi pemandangan disekitarnya.
Beberapa menit berlalu kami mulai disuguhi panorama alam yang megah, angin kencang menghempaskan kabut putih kearah barat dan membuka semua panorama yang sedari tadi tertutupi. Gunung Bromo, Pasir berbisik dan lain-lain juga terlihat.
Foto bersama-sama kita lakukan sebelum beranjak pulang.
Waktu yang mepet membuat kami mengakhiri perjalanan ini, paling tidak aku sudah tahu tempat dan jalurnya. Semoga aku masih diberi waktu untuk mengabadikan kecantikan alam Puncak B29 nanti.
![]() |
| view puncak B29 Foto : The Rizal (singgahlumajang) |
Sosok Itu Bernama "Dulitan"
Hem.... Pagi yang basah.
Jambearum, begitu desaku di sebuat olah banyak orang, berada di perbatasan kecamatan Puger dan Balung. Pagi ini genangan air bekas hujan semalam masih terlihat, dan Emak membuat suara khas dari sapu korek yang Dia pakai. Pagi yang tak berubah sedikitpun dari hari kemarin. Nenek-nenek menggendong cucunya dengan alunan suara mengayun dan cerita-certia. Burung-burung kecil tak mau kalah, suaranya melengking dari rimbun dedaunan bambu.
Rerumputan kecil memberiku mengingatkan aku tentang cerita-cerita dulu, certia masa kecil tentang Dulitan. Ya. Dulitan begitu orang di desaku menyebutnya, Dulitan di gambarkan sebagai orang yang membawa karung dan celurit di tangannya, dalam karung berisi kepala anak kecil untuk dijadikan tumbal ketika musim buka giling.
Emak selalu tak lupa memberi tahuku untuk berhati-hati ketika main, tak jarang Emak melarangku bermain ketempat yang jauh dan saat sorop (senja) tiba.
"Le lek beduk balek, lek dolan ojok adoh-adoh wedi onok dulitan" begitu ketika emak mengingatkan aku saat hendak bermain.
Letak desa ku yang tidak begitu jauh dengan kebun tebu milik Pabrik Gula Semboro menjadikan cerita Dulitan begitu melekat dalam keseharianku. Tambah-tambah saat tanaman tebu mulai berbunga dan beberapa lahan siap untuk di tebang.
Dalam fikirku tak pernah menjadikan cerita ini sebagai lelucon, lelucon orang tua yang tak ingin anaknya bermain terlalu jauh.
"Mungkin karne aku masih kecil"
Seirama dengan kawanku bermain.
Ketika itu aku sedang asik bermain neker di bawah rimbun pohon bambu, seketiak akaget dan reflek berlari kencang hanya karena melihat orang yang mirip dengan Dulitan. Membawa karung yang tak penuh dan membawa celurit, namun yang aku lihat tak membawa aret (celurit) ditangannya. Aku tak sempat berfikir itu adalah seorang pemulung, cerita yang begitu melekat dalam benakku menjadikan aku langsung lari tunggang langgang ke arah rumah.
Hahahaha.... Ketakutan yang berlebihan.
Hingga sekarang aku belum tahu jelas tentang Dulitan yang di katakan Emak. Tentang sosok yang membawa celurit dan karung yang bertugas memotong kepala anak kecil untuk di jadikan tumbal pabrik gula ketika akan buka giling.
Entah itu benar terjadi atau hanya propaganda era penjajahan Belanda?
Ach...Yang jelas itu sudah membuat aku takut.
Sudah bertahun-tahun cerita tentang Dulitan tak lagi aku dengar. Nenek-Nenek yang menggendong cucunya tak menceritakan tentang itu lagi, anak-anak kecil bermain kemana dia suka hingga berjam-jam juga tak lagi di wanti-wanti kan adanya Dulitan.
Syukur, cerita itu hanya berhenti kepadaku, sehingga anak-anak kecil sekarang tak lagi merasa ketakutan dan terlalu curiga. Terlebih pada pemulung yang sedang mencari nafkah.
Tertawa kadang saat berkumpul dan mengenang masa lalu. Masa kecil yang menakutkan dan menjadi lelucon saat masa remaja.
Catatan :
Seorang teman mengatakan pernah bertemu dengan Dulitan ketika Dia masih kecil, sosoknya sama seperti yang di gambarkan Emak pada ku. Namun itu tak di desaku, tapi di Pasuruan jauh dari Jember tempat aku tinggal.
Jambearum, begitu desaku di sebuat olah banyak orang, berada di perbatasan kecamatan Puger dan Balung. Pagi ini genangan air bekas hujan semalam masih terlihat, dan Emak membuat suara khas dari sapu korek yang Dia pakai. Pagi yang tak berubah sedikitpun dari hari kemarin. Nenek-nenek menggendong cucunya dengan alunan suara mengayun dan cerita-certia. Burung-burung kecil tak mau kalah, suaranya melengking dari rimbun dedaunan bambu.
Rerumputan kecil memberiku mengingatkan aku tentang cerita-cerita dulu, certia masa kecil tentang Dulitan. Ya. Dulitan begitu orang di desaku menyebutnya, Dulitan di gambarkan sebagai orang yang membawa karung dan celurit di tangannya, dalam karung berisi kepala anak kecil untuk dijadikan tumbal ketika musim buka giling.
Emak selalu tak lupa memberi tahuku untuk berhati-hati ketika main, tak jarang Emak melarangku bermain ketempat yang jauh dan saat sorop (senja) tiba.
"Le lek beduk balek, lek dolan ojok adoh-adoh wedi onok dulitan" begitu ketika emak mengingatkan aku saat hendak bermain.
Letak desa ku yang tidak begitu jauh dengan kebun tebu milik Pabrik Gula Semboro menjadikan cerita Dulitan begitu melekat dalam keseharianku. Tambah-tambah saat tanaman tebu mulai berbunga dan beberapa lahan siap untuk di tebang.
Dalam fikirku tak pernah menjadikan cerita ini sebagai lelucon, lelucon orang tua yang tak ingin anaknya bermain terlalu jauh.
"Mungkin karne aku masih kecil"
Seirama dengan kawanku bermain.
Ketika itu aku sedang asik bermain neker di bawah rimbun pohon bambu, seketiak akaget dan reflek berlari kencang hanya karena melihat orang yang mirip dengan Dulitan. Membawa karung yang tak penuh dan membawa celurit, namun yang aku lihat tak membawa aret (celurit) ditangannya. Aku tak sempat berfikir itu adalah seorang pemulung, cerita yang begitu melekat dalam benakku menjadikan aku langsung lari tunggang langgang ke arah rumah.
Hahahaha.... Ketakutan yang berlebihan.
Hingga sekarang aku belum tahu jelas tentang Dulitan yang di katakan Emak. Tentang sosok yang membawa celurit dan karung yang bertugas memotong kepala anak kecil untuk di jadikan tumbal pabrik gula ketika akan buka giling.
Entah itu benar terjadi atau hanya propaganda era penjajahan Belanda?
Ach...Yang jelas itu sudah membuat aku takut.
Sudah bertahun-tahun cerita tentang Dulitan tak lagi aku dengar. Nenek-Nenek yang menggendong cucunya tak menceritakan tentang itu lagi, anak-anak kecil bermain kemana dia suka hingga berjam-jam juga tak lagi di wanti-wanti kan adanya Dulitan.
Syukur, cerita itu hanya berhenti kepadaku, sehingga anak-anak kecil sekarang tak lagi merasa ketakutan dan terlalu curiga. Terlebih pada pemulung yang sedang mencari nafkah.
Tertawa kadang saat berkumpul dan mengenang masa lalu. Masa kecil yang menakutkan dan menjadi lelucon saat masa remaja.
Catatan :
Seorang teman mengatakan pernah bertemu dengan Dulitan ketika Dia masih kecil, sosoknya sama seperti yang di gambarkan Emak pada ku. Namun itu tak di desaku, tapi di Pasuruan jauh dari Jember tempat aku tinggal.
Sang Patriot (Letkol Mochammad Sroedji)
![]() |
| Penulis Buku : Irma Devita |
"Mas iku seng nang depan pemda patung'e sopo?"
"Jenderal Sudirman ta?
"Jenderal Sudirman ta?
Pertanyaan itu mengawali aku mengenal sosok tegap berdiri menghadap alun-alun kota jember. Ya. Patung tegap dengan Samurai di tubuhnya itu. Aku bertanya pada Mas Bro ketika ngobrol santai di Panaongan, pertanyaan yang sederhana dari orang yang penasaran tentang patung yang berdiri tegap depan Kantor Bupati Jember.
Mas Bro mulai menjelaskan tentang sosok itu. Dia seorang pahlawan berpangkal Letkol, Mochammad Sroedji namanya.
Ketika aku masih duduk di Sekolah Dasar di desa kecil yang berada di selatan kota Jember. Aku sama sekali tak melihat nama Mochammad Sroedji di daftar nama pahlawan yang ada dibuku sejarah.
Aku hanya mengenal sosok Jendral Sudirman yang menyandang Samurai di badannya, jadi maklun jika aku menyangka sosok tegap itu adalah Jendral Sudirman.
Aku hanya warga desa yang dekat dengan pesisir selatan Jember, jauh dari hiruk pikuk kota yang sabenhari bisa memandangai patung besar nan gagah yang tak pernah lelah melihat warga jember sibuk dengan pekerjaannya.
Lalu bertanya, siapa dia?
Awal tahun 2013 aku baru tahu kalau itu adalah pahlawan kota kecil ku. Lewat obrolan santai dan kopi hitam menjadi sajian aku mulai mengenalnya, cerita Mas Bro di dunia nyata maupun maya atau blog mulai membuka pengenatuanku terhadap Letkol Moch Sroedji.
Hari berganti dengan beriringan, aku mulai mengenalkan pada beberapa teman yang singgah ke Jember untuk mengenalnya. Mengenal seorang pahlawan yang romantis dan tak diketahui warganya sendiri. Sepertihalnya aku dulu.
Senopati Kecil, begitu aku mulai mengenal sosok Letkol Muchammad Sroedji lewat buku Sang PATRIOT. Dalam buku berkisah tentang perjalanan Senopati sedari masih belia yang mengalur lembut dengan kisah Persahabatan, Cinta, Pengorbanan, dan Penghianatan.
Aku bukanlah sejarawan, tapi aku menikmati sejarah jika di tulisakan mengalir dengan bukti yang benar dan dikemas secara santai, bukan seperti buku pelajaran atau seperti berita yang hanya bermodal sumber-sumber dari internet dan buku tanpa menggali lebih dalam pada pelaku sejarahnya.
Buku Sang Patriot memberi angin segar bagiku, bagi orang yang malas membaca buku tebal soal kepangkatan pahlawan dan tanggal-tanggal yang begitu banyak serta nama-nama asing. Aku bukan pembaca yang baik untuk buku-buku sejarah seperti itu, sebab aku penyuka buku-buku yang bercerita dengan susunan kata indah. Sang Patriot adalah Novel Sejarah, menuliskan tentang sejarah kepahlawanan sang Senopati Kecil ketika melawan penjajah.
Aku begitu menikamti alur cerita sang Senopati, tentang cintanya pada seorang kekasih yang menjadi ibu dari anak-anaknya, begitu juga tentang gaya dia menenangkan dan menghibur sang istri.
Ach...Aku terjebak dalam roman Senopati.
Senopati yang mencintai kekasihnya harus rela tak melihat anak dan istrinya beberapa minggu bahkan beberapa bulan untuk bertempur melawan penjajah. Seperti yang pernah di katakan Mas Bro "semua punya nilai". Senopati menilai perjuangannya begitu penting melawan penjajah untuk anak, cucu, dan penerusnya nanti agar tak menjadi jongos di negaranya sendiri. Pemikiran sepasang suami istri ini juga tertuang dalam novel, yang menjadikan kita terbawa arus untuk tak berhenti dahulu sebelum selesai membaca.
Namun aku mulai bosan ketika beberapa lembar yang aku baca mulai ke arah tanggal dan beberpa istilah asing, baik istilah jepang maupun belanda.
Tapi tersemat nama Soebandi, yang sekarang menjadi nama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di Jember. Soebandi adalah sahabat Sroedji, beliau menjadi dokter militer ketika itu. Sepasang sahabat ini berjuang bersama dalam menumpas penjajah.
Aku bukanlah seorang pengingat yang baik, makanya aku mulai jenuh dengan kata-kata asing itu, dan mulai semangat lagi saat cerita persahabatan tersemat di dalamnya. Ketika mulai memasuki lembaran tengah buku, penulis rupanya menceritakan kembali kisah-kisah heroik dan kebesaran cinta.
Tentang Suami yang di bandrol 10.000 Gulden, hidup maupun mati.
Istri mana yang rela Suami tercintanya di wartakan sebagai pemberontak oleh belanda dan di beri hadiah 10.000 gulden bagi siapa yang bisa menangkapnya hidup maupun mati. Tentunya tak ada. Begitu pula dengan Rukmini (Istri Sroedji), Rukmini geram namun masih bisa tersenyum sebab dengan berita itu meyakinkan dia kalau Suaminya masih hidup dan tetap berjuang untuk Tanah Air.
Didikan ketika menjadi Perwira PETA membuat Sroedji berani dan kuat, sampai ketika agresi militer ke 2. Ketika Jepang kembali ke negara asalnya dan Belanda masuk kembali ke Indonesia.
Pertempuran hebat yang mengakhiri langkah kecil Senopati terhenti. Penyiksan padanya mulai terjadi meski sudah tak bernyawa, sampai darah menjadi perekat debu-debu jalan pada sekujur tubuh, kerikil jalan menjadi amplas alami yang membuat kulitnya tergores. Dia diseret oleh truk pasukan Belanda. Rukmini yang mendengar kabar itu mengunjungi tempat istirahat terakhir sang Suami tercintanya, menggandeng buah hatinya ke gundukan tanah yang tertancap batu nisan.
Novel sejarah ini begitu membiusku, seakan aku masuk dalam lorong waktu yang menjadikan aku berimaji tentang situasi saat itu. Saat nama mulai disamarkan demi keselamatan, ketika Istri yang sedang mengandung delapan bulan berjalan dari Jember ke Kediri, ketika sahabat harus berpisah akibat penghianatan sang anak buah, dan ketika anak tak lagi bisa melihat sang bapak.
Membaca buku ini mengingatkan aku tentang sosok anak kecil yang tak tahu pahlawan kotanya sendiri. Ya. Itu aku.
Jika di tanya :
Siapa pahlawan kota Jember? Aku akan lantang menjawab Mochammad Sroedji, Soebandi dengan lantang untuk saat ini.
Tapi apa itu akan seirama dengan anak-anak usia SD atau SMP yang ada di sekitarku? Sepertinya tidak. Mungkin mereka akan menjawab dengan nama-nama lain yang tertera di buku pelajaran sejarah, atau masih sibuk menuliskan kata kuci di mesin pencari.
Vjlie Belajar Menulis
![]() |
| vj lie di cafe gumitir |
Awalnya hanya tulisan oret-oretan saja yang aku punya, dengan secarik kertas aku menulis hal-hal penting, unik, dan tak ingin aku melupakan semua itu. Namun tulisan kecil itu terbuang juga pada akhirnya. Begitu terus dan berulang hingga aku mengenal dunia blog.
Blog memungkinkan semua tulisanku tak terbuang dan hilang, atau termakan tikus saat ditulis di buku catatan.
Blog memungkinkan semua tulisanku tak terbuang dan hilang, atau termakan tikus saat ditulis di buku catatan.
Aku mengenal blog sedari 15 November 2012, ketika itu aku datang di acara sederhana dan sekaligus acara tahun pertama pernikahan Mas Hakim dan Mbak Prit. Dari mas Bro (sapaan akrab mas Hakim) aku mulai mengenal menulis di blog, ada perbedaan saat itu, meski sama-sama menulis. Lantas aku tak langsung membuat saat itu, aku masih bimbang.
Saat aku menulis di blog aku merasa canggung, piye maneh tulisanku semrawut dan pokok mecotot.
Malu? Ya.
Itu terjadi padaku ketika awal pertama aku menulis. Siapa yang tak malu ketika tulisan itu hanya bisa memuaskan diri sendiri, dan belum bisa dinikmati oleh banyak orang.
Bingung? Pasti.
Saat pertama menulis aku bingung apa yang mau aku tulis, beda hanya saat secarik kertas-kertas yang aku goreskan pena untuk sekedar tak lupa.
Menulis di blog berarti memberi kesempatan pada orang untuk menilai tulisanmu. Meski blog bisa di buat tertutup atau tak biasa di komentari, Namun itu kurang menantang untuk aku yang sedang belajar menulis di blog.
Bermodalkan Tablet aku mulai menulis sebisanya, menulikan apa yang aku lihat dan aku rasa saat itu. setidaknya ini bisa menggantikan secarik kertas yang pernah aku pakai sebelum mengenal blog. Sempat terhenti sebentar, tepatnya beberapa bulan. Aku menghentika menulis untuk belajar merangkai kata lewat membaca beberapa buku dan blog, gaya penulisan yang mengalir juga tak luput aku pelajari, hingga saat aku menuliskan ini.
Aku mempelajari itu karna aku tak mau tulisanku belepotan, dan semrawut kayak Mie Apong dalam mangkuk.
Namun semuanya bisa di atasi ketika sudah terbiasa. Bisa itu bisa karena kita sudah tebiasa asal mau belajar. Bisa Karena Terbiasa inilah yang mendorong aku harus tetap menulis, toh nanti juga bakalan terbiasa menulis. Halah kok dadi ruwe se.
""jika umurmu tak sepanjang umur dunia, maka sambunglah dengan tulisan.." Pramoedya Ananta Toer. Kata-kata ini pernah di ulang oleh mas Bro yang membuat aku tambah pengen menulis.
Kata yang membuat aku tak ingin di lupakan begitu saja oleh orang-orang sekitar ku. Aku ingin orang-orang terdekat masih bisa mengenang sosok vjlie (aku) dari tulisan yang aku buat, ketika aku sudah terpejam dan terkubur dalam tanah nanti.
Sampai saat ini aku masih belajar merangkai kata yang tepat untuk tulisan-tulisanku, meski itu hanya tulisan sederhana, sesederhana aku ketika curhat. Paling tidak tulisanku mengalir dan tak membuat orang malas membaca ceritaku, celoteh dari anak desa yang tinggal di selatan kota Jember.
Bingung? Pasti.
Saat pertama menulis aku bingung apa yang mau aku tulis, beda hanya saat secarik kertas-kertas yang aku goreskan pena untuk sekedar tak lupa.
Menulis di blog berarti memberi kesempatan pada orang untuk menilai tulisanmu. Meski blog bisa di buat tertutup atau tak biasa di komentari, Namun itu kurang menantang untuk aku yang sedang belajar menulis di blog.
Bermodalkan Tablet aku mulai menulis sebisanya, menulikan apa yang aku lihat dan aku rasa saat itu. setidaknya ini bisa menggantikan secarik kertas yang pernah aku pakai sebelum mengenal blog. Sempat terhenti sebentar, tepatnya beberapa bulan. Aku menghentika menulis untuk belajar merangkai kata lewat membaca beberapa buku dan blog, gaya penulisan yang mengalir juga tak luput aku pelajari, hingga saat aku menuliskan ini.
Aku mempelajari itu karna aku tak mau tulisanku belepotan, dan semrawut kayak Mie Apong dalam mangkuk.
Namun semuanya bisa di atasi ketika sudah terbiasa. Bisa itu bisa karena kita sudah tebiasa asal mau belajar. Bisa Karena Terbiasa inilah yang mendorong aku harus tetap menulis, toh nanti juga bakalan terbiasa menulis. Halah kok dadi ruwe se.
""jika umurmu tak sepanjang umur dunia, maka sambunglah dengan tulisan.." Pramoedya Ananta Toer. Kata-kata ini pernah di ulang oleh mas Bro yang membuat aku tambah pengen menulis.
Kata yang membuat aku tak ingin di lupakan begitu saja oleh orang-orang sekitar ku. Aku ingin orang-orang terdekat masih bisa mengenang sosok vjlie (aku) dari tulisan yang aku buat, ketika aku sudah terpejam dan terkubur dalam tanah nanti.
Sampai saat ini aku masih belajar merangkai kata yang tepat untuk tulisan-tulisanku, meski itu hanya tulisan sederhana, sesederhana aku ketika curhat. Paling tidak tulisanku mengalir dan tak membuat orang malas membaca ceritaku, celoteh dari anak desa yang tinggal di selatan kota Jember.
Menjemput Peri Kecil
![]() |
| Ove di cafe Wuluhan, Jember |
"Say kamu jadikan jemput aku nanti di Surabaya" Dia meragukak janjiku karna kemarin aku sempat tidak enak badan.
"Iya aku jemput" Dalam pesan balasanku pada Ovi.
Hari Jum'at yang panas.
Motor warna merah milikku sudah siap mengantarku diterminal Jember, Ketika itu jam 1 siang, saat panas masih menyengat dikulit. Namun aku sudah janji. Setibaku di terminal Tawang Alun, aku memarkirkan motor di dekat pintu barat terminal.
"Di ambil nanti malam pak" Sembari aku menanda tangani buku parkir yang tertera nomor polisi sepedah motorku.
"Rp.5000" kata petugas parkir yang memberi ku karcis.
Ini kali kedua aku menjemput Ovi di Terminal Bungurasih, dengan alasan yang sama aku menjemputnya kembali.
Semua karena Sayang.
Ada yang bilang kayak gak ada kerjaan aja dari Jember ke Surabaya lalu ke Jember lagi di waktu itu juga, tapi itu bukan masalah buatku. Sebab yang masalah buatku adalah seorang perempuan yang sekarang aku sayang naik bus dari Surabaya ke Jember sendirian pada malam hari.
Khawatir dan takut terjadi apa-apa membuat aku menjemput Ovi di Surabaya. Perjalanan seperti ini hanya saat Ovi berangkat malam saja, jika berangkat pagi aku tak menjemputnya di Surabaya. Aku biasa menunggunya di Terminal Jember sembari bertemu kawan lama jika Ovi berangkat Pagi dari Surabaya.
Ovi memang sudah beberapa kali ke Jember, Dia menghabiskan waktu libur ke Jember ketika sudah penat dengan pekerjaannya yang di Surabaya. Tentunya juga bertemu dengan Ku.
Jam 13:30 wib
Aku mulai menaiki Bus Patas Jatim menuju Surabaya, kali ini aku menaiki Bus P.O Mila. Bus yang aku tumpangi cukup nyaman dengan kursi empuk dan kamar kecil dekat pintu belakang, namun sekarang ada yang membuatku tak nyaman ruangan AC dalam bus membuat bau duren gak hilang-hilang.
"Ach... Kenapa duren di bawa masuk???" pikirku kesal.
Beberapa menit aku mengalihkan perhatianku dengan bau duren di ruangan dengan memandangi arah luar gak cukup buat rasa mual ini hilang. Tempat dudukku mendukung untuk ini, sebab aku duduk di samping kaca yang bisa melihat banyak variasi pemandangan, sawah, rumah, dan pasar. Tapi mau gimana lagi semua itu gak membuat mual ini ilang.
Ponsel ku ambil saku jaket sebelah kanan dan sms ke Ovi.
"Say perut aku gak enak, munek-munek rasane"
"knp lho"
"Bau duren dalam bus"
"hahahaha.... Bukane enak bau duren"
"Megelno, lek mambu keterusan yo gak enak pisan"
Upaya mengalihkan perhatian dari perut mualku dengan SMS juga gak membuahkan hasil, yang ada aku malah pusing dengan huruf kecil-kecil yang aku ketik dari HP ku.
"Sudah dulu ya, aku tambah mual" SMS trakhirku pada Ovi dan sekaligus aku menyenderkan kepala berharap bisa tidur.
Alhamdulillah aku bisa tidur akhirnya.
Aku terbangun dan bau itu serasa sudah akrab dengan hidung dan perutku.
"Sudah sampai Probolinggo, masih kurang separuh perjalanan", aku mulai tenang dan memulai percakapan dengan orang yang duduk di sampingku. Sepertinya aku tidak asing dengan logat dari bapak ini.
"Asalnya dari mana pak?" tanyaku untuk menjawab rasa penasaran yang sepertinya aku mengenal logatnya.
"Dari Sumedang"
Nah.... Benar, aku tak salah menebak asal bapak ini tinggal. Logat sunda itu terasa tak asing untuk telingaku. Jadi ingat dulu ketika aku masih berada di Karawang. Ya. Aku sempat tinggal di tanah Pasundan beberapa tahun, jadi logat itu terasa tidak asing bagiku.
Percakapan terus berlangsung hingga sampai kota Pasuruan, dan aku kembali memangdangi arah luar yang menyajikan masih kokohnya bangunan-bangunan kuno masa penjajahan Belanda dulu. Beberapa bangunan tak terurus, dan beberapa lagi bagus dengan pemanfaatan sebagai tempat makan. Andai aku punya uang banyak, aku juga ingin punya tempat bergaya bangunan Belanda yang kujadikan Cafe. Seperti mimpiku di bangunan bekas Jember Outlet.
Senja di langit pasuruan mulai berganti malam, dan sudah tidak terhitung berapa kali aku ganti posisi duduk.
"henggggg....hengggg..." HP ku bergetar. Oh...Dari Ovi yang menanyakan posisiku
"Sudah sampai mana?" Dia beberapa kali menanyakan itu, hanya ingin memastikan jika nanti ketika dia berangkat dari Geresik aku tak terlalu lama menunggu di terminal.
"Sudah masuk tol, sebentar lagi sampai kok"
"Aku siap-siap, bentar lagi berangkat dari rumah, disini grimis"
Bus yang ku tumpangi mengurangi kecepatannya.
"Sepertinya sudah mau keluar tol" namun aku salah, ternyata macet panjang berada di depan.
"Ach...bakal lama nie" beberapa menit berlalu dengan bus berjalan lamban sampai aku tiba di Terminal Bungurasih.
"Aku sudah sampai terminal Say"
"Aku masih di bus mungkin akan lama, soalnya macet" Ovi terjebak macet yang sama sepertiku tadi.
Di bawah lampu jalan aku menunggu Ovi dan berpindah ke warung pojok terminal ketika perut ini mulai membunyikan suara khasnya yang sedang kosong.
Nasi Campur dengan lauk rempelo dan minuman teh manis hangat mengisi perut ku, tak tersa sudah 30 menit dan aku memesan Kopi Hitam untuk menemani ku menunggu Bus P8 yang di tumpangi Ovi datang.
![]() |
| Pijat di Trotoar Terminal Bungurasih |
"Mau apa bapak ini?" tanyaku dalam hati.
Di gelarnya kasur tipis dengan sprei dan lengkap beserta bantal di atas karpet tadi. Aku baru tahu maksudnya setelah salah satu orang menghampirinya meminta di pijat. Dua bapak ini adalah tukang pijat di trotoar Terminal Bungurasih. untuk memijat bapak ini menggunakan "hand and body lotion" untuk memper mudah ketika mengurut otot-otot yang letih dari si pasien.
Hiruk pikuk dalam terminal bukan menjadi alasan dua bapak ini. Aku melihat salah satu bapak itu mulai memijit dan terlihat sangat piawai, namun sayang aku belum bisa ngobrol panjang dengan tukang pijit satu ini, sebab bus yang di tumpangi Ovi sudah datang di terminal.
Ovi yang memakai jaket merah muda kesayangannya mulai melangkah turun dan menjumpaiku. Kami mulai ngobrol tentang perjalanan tadi, perut mualku, macet, dan lain-lain sembari berjalan menuju keluar untuk menumpang bus ke Jember.
Langganan:
Postingan (Atom)































